Sore ini, duduklah aku di tempat nongkrong
yang biasa disebut gerdu. Gerdu adalah
sebuah tempat semacam bangunan yang didirikan untuk orang siskamling, orang yang mengurusi irigasi atau
hanya sekadar menongkrong.
Kebetulan sepi sekali sore ini, aku putuskan untuk duduk sendiri di sini untuk melamun karena cukup penat, aku merasakan isi kepalaku yang sedang dibuat runyam oleh diriku sendiri. Aku beralibi menunggu senja.
Kebetulan sepi sekali sore ini, aku putuskan untuk duduk sendiri di sini untuk melamun karena cukup penat, aku merasakan isi kepalaku yang sedang dibuat runyam oleh diriku sendiri. Aku beralibi menunggu senja.
Tidak lama
kemudian pandangku jatuh dalam bola mata seorang gadis. Ku lihat dia sedang berkeringat kelelahan. Di
sebuah pekarangan salah satu rumah. Dia cantik sekali, gincunya merona menarik mataku
berlabuh di sana. Tingginya Lebih rendah dariku kuperkirakan tingginya 150 cm.
untuk beratnya kemungkinan tidak sampai 50kg. Tubuhnya gempal, semua pasti tertarik
dengannya begitu pula aku. Terpaku kaku leherku melihatnya, dia sedang
menguncir rambut aku sibuk mengelus dada kegirangan. Secara usia kalau dilihat
dari kaum cendekia dia mungkin mahasiswa baru. Terdengar suara alunan musik gamelan. Maka, ku simpulkan bahwa dia selesai menari .
Akhirnya, dia menengok kepadaku.
Berlarilah
dia keluar pagar dan langsung duduk di sampingku. Ingatanku tertarik pada suatu
masa. Dia adalah temanku waktu sejak sekolah dasar hingga SMP. Aku percaya
bahwa dia lupa kepadaku. Sempat kaget mengapa dia sekarang menjadi penari,
padahal dulu dia merupakan anak yang alim, bapaknya pun tokoh masyarakat di desaku. Sengaja, aku tak mengikrarkan kita berteman
karena akhir-akhir ini ada kontra diksi dengan kata teman. Ketika dua anak
manusia berbeda gender mengikrarkan dan mengakui pertemanan tanpa salah satu
memendam rasa itu tidak mungkin ada dan tidak mengada-ada. Aku juga tidak
pernah tahu suatu hari nanti aku akan mencintainya atau tidak . Aku memilih
diam saja
Kita duduk di tempat yang sama dan
memandang langit yang sama tanpa satu kata pun berbuah di bibir.
Tanyaku ku
mulai, agar ada unsure manusia di tempat ini. “Nduk, sudah lama menjadi penari?” sengaja aku memanggilnya genduk agar aku terlihat lebih tua darinya.
Dari raut wajah muram dan membuncah
menangislah dia.
“Kang, sedih sekali aku mengaku sebagai
penari. Walaupun banyak
orang menitipkan anaknya untuk belajar menari kepadaku. Tapi, jauh lebih banyak yang membenciku.
Orang di sini mengetahui
aku adalah seorang gadis yang tak pulang-pulang sekolah dan mereka mengetahui aku adalah gadis desa
yang lugu dan penuh ilmu agama. Di tambah lagi bapak seorang tokoh masyarakat memiliki title haji. Mereka hanya tahu bahwa menari
itu hanya memamerkan lekuk tubuh, tampang, bahkan bagian intim. Aku menari adalah peluapan
emosiku, Kang.” Banyak sekali
dia bercerita semua tentang tarian diceritakan padaku. Tak lupa
menyebutkan semua orang yang membuatnya menari. Ternyata yang membuat dia menari adalah dia sendiri
didorong semua restu.
Semenjak dia
bercerita, terbukalah pikirku yang selalu menganggap menari adalah hanya menonton lekuk tubuh saja. Ternyata, lekuk tubuh yang aku lihat adalah
kebakaran dalam diri seorang penari.
Mataku masih terpaku di wajahnya yang
melekat dalam ingat. Aromanya menusuk ke dalam sukma. Bola matanya adalah
rotasi untuk hati hari ini.
aku menjawab
“Nduk, lihatlah siapa
saja yang tidak suka kepadamu, bandingkan dengan mereka yang menyukai hobimu.”
dia memotong
“lebih banyak yang tidak suka, Kang. Pasti kau ingin
mengatakan pernyataan yang sudah merakyat itu kan. Dimana aku harus melupakan
yang tidak suka daripada yang suka. Iya kan Kang?”
aku memilih untuk diam. Kita berdua
terdiam memandang senja yang hampir tenggelam serta tiba-tiba rasaku terbit
untuk menjajaki hati sang penari ini. Bersandarlah rasaku di pundak hatinya
hampir saja tenggelam cukup dalam.
Dia
tiba-tiba mengalungkan selendangnya kepadaku. Diajaklah aku untuk menari dengan
koreografi yang dia buat sendiri. Rasaku tidak ku tinggal, tetap ku bawa.
Terbuai lupa aku menari bersamanya.
Gincu merahnya, pipi
mulusnya, dan detak jantungnya. Lupa aku perihal detik, menit, jam bahkan hari. Aromanya semakin melekat dalam ingat. Lalu dia pergi.
Seandainya aku sadar bahwa semua itu
adalah tarian perpisahan maka ku ikrarkan dia jadi sesuatu di hidupku.
Hari sudah
malam, senjaku hilang. Kau ambil dengan tanganmu. Lalu kau simpan dalam selendangmu. Lekuk tubuhmu ada sinarnya. Dia teriak-teriak tertawa kegirangan. Larimu terlalu cepat, kepalanya tersibak angin. Marahku tak bisa ku pendam membaur dalam dendam.
Kekasih, mengapa kau ambil senjaku dari peraduannya. Jika seandainya kau pinta, akan ku berikan biar senja tenggelam dalam bola
matamu. Memancar dari korneamu, membias di alismu yang tidak wajar. Mengapa ku
sebut tidak wajar? karena mayoritas penari beralis tebal. Tapi, kau tidak punya
alis.
Hingga aku
sadar pelukmu adalah malam tempatku pulang dan buat kepalaku berbantal.
Menjadi seorang penari adalah sakit
hati yang terbalut suka cita. Mereka menyembunyikan baiknya hinnga terlihat
oleh orang baiknya. Baik mereka diasingkan oleh opini-opini. Aku lupa tentang
memihak, padahal rasaku sepihak.
Lantas mengapa rasaku berpola lantai
megah sedangkan panggung ini setengah lingkaran yang kecil, kau sebabkan aku terjatuh dari
pangung ,kekasih.
aku kehilangan senjaku lagi
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar