Lama kau tak
berkabar, kabar terakhir kau akan pergi ke suatu kota dan menetap disana. Kota yang
kira kira berpuluh-puluh kilometer ke barat. kabarnya pula kau berangkat hari ini,beberapa
hari lalu kau menyebut tanggal ini. Aku bergegas mandi menggosok gigi dan
memakai pakaian yang bagus, minyak wangi ku semprortkan 3 kali di bagian ketiak,
2 kali di bagian dada dan 2 kali ditangan harapku agar kau berjabat lalu kita
bertukar aroma.
Aku berangkat ke
terminal keberangkatan agak pagi agar
aku lebih dulu datang padamu sebagai bentuk perayaan aku menunggumu. Aku sangat
bersemangat rambutku mengkilap tersentuh sinar mentari. Datang dengan sumringah, ku sapa semua orang disana
dengan menganggukkan kepala. Duduk di ruang
tunggu mengeleng-geleng kepala dan mengamati dengan orang orang yang menunggu semuanya
begitu.
Hingga aku
tertidur dalam penunggguan yang agak panjang ini. Ku lihat arloji ternyata jam
2 siang. Ternyata aku menunggu cukup lama. Mataku tertuju pada papan yang
isinya tentang rute dan jadwal keberangkatan. Ternyata bus yang kau tunggangi
baru akan datang pukul 5 sore. Sial! Kurang 3 jam lagi. Menunggu ini
benar-benar perayaan dan pesta pora. Aku memilih turun dan mencuci muka di keran-keran
sebelah mushola lalu aku kembali.
Pukul setengah 5,
terlihat sesosok tubuh yang familiar di lorong sebelah kiri ruang tunggu. Ku
diamkan saja kau berjalan menarik kopermu dan menjinjing tasmu itu. Sengaja ku
biarkan karena lorongnya cukup panjang. Rencanaku nantinya aku akan mengejar kau agar seperti Rangga
di film Ada Apa Dengan Cinta. Sial! Aku
lupa aku tidak ganteng dan ini terminal bukan bandara.
Aku menepuk
tangan dan memanggil namamu “hey sini”. Kau memutarbalikkan badan dan menyebut
namaku “kenapa kau kemari ada perlu apa? Apa kau juga ingin naik bus”.
“Sial! Dia
tidak merasa ditunggu.” gumamku dalam hati.
Aku berteriak “sebentar aku mau
bicara.”
Dia menghampiri dan menampar mulutku
“kenapa kau berteriak, memalukan!”
Aku berdiri di lorong menuju shelter, “aku sudah lama menunggumu sejak
pagi.”
“Mengapa kau tidak mengirim pesan terlebih dahulu.” Jawabnya.
“ ya tidak apa-apa” sautku secara
reflek.
“Aku tadi sudah ngganteng.”
“Tidak, biasa saja.”
“Aku mau bicara”
“Ya bicara saja.”
“Kapan kau kembali?”
“Aku belum berangkat.”
“Aku khawatir”
“Apa yang kau khawatirkan?”
“jika aku ingin bertemu, atau singkatnya merindu.”
“Ya sudah,tinggal telfon saja.”
“Apa kau nanti merinduku juga?”
“Lihat nanti saja.”
“Kenapa kau selalu menggantung?”
“Tidak, biasa saja.”
“Jadi ,nanti kau merinduku juga?”
“Tidak, biasa saja. Kan kau setiap
hari berkirim kabar denganku.”
“Berarti itu membuatmu tak merindu
saya?”
“Iya,rindu itu untuk mereka yang
tidak bisa apa-apa. Seperti adikku yang masih kecil,dia tidak punya cara
menghubungi ku. Kau kan punya cara.”
“Benar juga.”
“ Jarak kita sangat jauh dari sudut
pandang kilometer.”
“Ya, mau gimana lagi.”
Tiba tiba aku terdiam teringat
kalimat joko pinurbo “jarak sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan
perpisahan dilahirkan oleh perasaan.”
“Kau sudah makan.” Tanyaku .
“Sudah.”
“Sial! Tidak ditanya balik.”
“Bagaimana tentang kita? Kau jauh
dari saya.”
“Ya gak gimana-gimana. Pilihlah yang
dekat saja kalau begitu”
“Aku tidak mau, aku hanya ingin
dirimu.”
“Oh”
“Apakah kita tetap kita?”
“Lihat saja nanti, sebentar, kenapa kau berani menyebut kita?”
“Karena aku dan kamu hanya orang dua,
kalau lebih dari dua kau bisa sebut kami.” hatiku bertanya kenapa aku terlalu
kontekstual.
“Oh seperti itu, darimana kau tau
kita berdua saja?”
“Berarti kau sedang ditunggu dan menunggu
seseorang? Ya sudah sebut saja kami.”
“Bagaimana yaa” dengan mata melihat ke atas
“Langgeng terus untuk kami,kita
lihat saja akhirnya kitamu itu kitaku atau kitanya.”
“Iyaaaaa”
Memang sengaja a–nya
kau panjangkan agar aku percaya.
Aku diam,
memikirkan bagaimana bisa cinta segitiga. Aku ingat beberapa rumus segitiga ½ alas kali tinggi. Oh iya itu rumusnya luas. Kau dan dia adalah panjang alas. Agar aku
mendapat luasnya cinta segitiga, aku harus membagi dua alas dan mengkalikan
tingginya atau aku jadi tinggi saja agar
aku dikalikan dengan alas. Tapi nanti aku dibagi dua akhirnya. Dulu aku sekolah
ngapain aja kok masih bingung sama rumus.
“Mengapa kau diam saja.” tanyamu
“Tidak apa-apa. Apa kau tahu tentang
cinta segitiga?”
“Tidak”
“Hati-hati di sana,” sialan kata itu terucap
“Iyaaa.”
Lagi dan lagi a-nya dipanjangkan.
“Apa benar kau menjaga hati untuk
saya.”
“Iyaaaaaa.”
“Aku mau bicara padamu sebentar”
“Iya,apa?”
“Aku sebenarnya mencintaimu dan tak
rela kau pergi.”
“Hah, apa?”
“Kau kaget?”
“Kaget apa? Aku tidak mendengar.”
“Aku sebenarnya…”
“Ayo cepat 5 menit lagi busku datang.”
“Aku ingin ke kamar mandi. Disini dingin .”
“Baiklah, saya tunggu disini.”
Aku bergegas ke
kamar mandi untuk kencing. Sialnya, melihat closet yang menganga perutku ingin
membuang sesuatu. Sialnya lagi sembelit,
dia tidak mau keluar cepat dari perut.
Setelah itu aku
pergi ke lorong tadi, kau sudah tiada. Ku lihat di kaca, kau sedang bicara
dengan laki-laki dan kelihatanya dia telah membawakan kopermu. Lelaki itu berjabat tangan padamu lalu mencium
ubun-ubunmu. kau melambai kepadanya.
“Sial! Tak ada yang lebih tabah
daripada ditikung ketika ngising.”
Aku lari melewati
lorong itu. Kali ini aku merasa seperti Rangga.
Aku sampai di sisi kanan bus dan lelaki itu terakhir ku lihat di sisi kiri bus. Dari atas
bus kau melambai kepadaku. Terlihat buram karena kacanya berembun. Aku hanya
senyum dan melambai padamu. Busnya akhirnya berangkat perlahan. Tanganku
mengepal, sepertinya terminal memang tempatnya perkelahian. Akhirnya aku sudah
bersiap lari dan memukul. Berlagak seperti Genji di Crows Zero. Busnya lewat,
lalu aku melompat. Di sebelah sana hanya orang orang dagang tahu berbaju hijau.
“Sialan!” aku
berjalan pulang dengan bau matahari dan rambut yang sudah tak berkilau. Berjalan dengan segala kehancuran. “Tuhan
mengapa cinta itu seperti kebelet ngising
datangnya tak kenal waktu dan suasana. Semua
tegantung eksekusinya, kita menahan atau
melepaskannya.”
Beberapa jam kemudian, dering
telepon genggamku berbunyi dan pesan darimu terpampang di layar “Aku sudah
sampai.”
“Aku juga sudah sampai.”
“Memangnya sampai dimana?”
“Pada daerah yang gersang tak di tumbuhi air, bernama hilang. Disini aku sedang memupuk semuanya”
Mengapa juga aku
merasa kehilangan. Kehilangan hadir karena kita merasa punya. Sedangkan manusia
di dunia ini tidak punya apa-apa. Ternyata puncak jauh bukan kilometer tapi semua yang bersebrangan. Aku ingin membunuh
perasaan saja tapi aku kebelet ngising
lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar