Kamis, 09 Agustus 2018

Sua : Dingin Di Terminal Keberangkatan


Lama kau tak berkabar, kabar terakhir kau akan pergi ke suatu kota dan menetap disana. Kota yang kira kira berpuluh-puluh kilometer ke barat.  kabarnya pula kau berangkat hari ini,beberapa hari lalu kau menyebut tanggal ini. Aku bergegas mandi menggosok gigi dan memakai pakaian yang bagus, minyak wangi ku semprortkan 3 kali di bagian ketiak, 2 kali di bagian dada dan 2 kali ditangan harapku agar kau berjabat lalu kita bertukar aroma.
Aku berangkat ke terminal keberangkatan agak pagi agar aku lebih dulu datang padamu sebagai bentuk perayaan aku menunggumu. Aku sangat bersemangat rambutku mengkilap tersentuh sinar mentari. Datang dengan sumringah, ku sapa semua orang disana dengan menganggukkan kepala. Duduk di ruang  tunggu mengeleng-geleng kepala dan mengamati  dengan orang orang yang menunggu semuanya begitu.

Hingga aku tertidur dalam penunggguan yang agak panjang ini. Ku lihat arloji ternyata jam 2 siang. Ternyata aku menunggu cukup lama. Mataku tertuju pada papan yang isinya tentang rute dan jadwal keberangkatan. Ternyata bus yang kau tunggangi baru akan datang pukul 5 sore. Sial! Kurang 3 jam lagi. Menunggu ini benar-benar perayaan dan pesta pora. Aku memilih turun dan mencuci muka di keran-keran sebelah mushola lalu aku kembali.
Pukul setengah 5, terlihat sesosok tubuh yang familiar di lorong sebelah kiri ruang tunggu. Ku diamkan saja kau berjalan menarik kopermu dan menjinjing tasmu itu. Sengaja ku biarkan karena lorongnya cukup panjang. Rencanaku  nantinya aku akan mengejar kau agar seperti Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta.  Sial! Aku lupa aku tidak ganteng dan ini terminal bukan bandara.
Aku menepuk tangan dan memanggil namamu “hey sini”. Kau memutarbalikkan badan dan menyebut namaku “kenapa kau kemari ada perlu apa? Apa kau juga ingin naik bus”.
  “Sial! Dia tidak merasa ditunggu.” gumamku dalam hati.  
Aku berteriak “sebentar aku mau bicara.”
Dia menghampiri dan menampar mulutku “kenapa kau berteriak, memalukan!”
Aku berdiri di lorong menuju shelter, “aku sudah lama menunggumu sejak pagi.”
 “Mengapa kau tidak mengirim  pesan terlebih dahulu.” Jawabnya.
“ ya tidak apa-apa” sautku secara reflek.
 “Aku tadi sudah ngganteng.”
“Tidak, biasa saja.”
“Aku mau bicara”
“Ya bicara saja.”
“Kapan kau kembali?”
“Aku belum berangkat.”
“Aku khawatir”
“Apa yang kau khawatirkan?”
“jika aku ingin bertemu, atau singkatnya merindu.”
“Ya sudah,tinggal telfon saja.”
“Apa kau nanti merinduku juga?”
“Lihat nanti saja.”
“Kenapa kau selalu menggantung?”
“Tidak, biasa saja.”
“Jadi ,nanti kau merinduku juga?”
“Tidak, biasa saja. Kan kau setiap hari berkirim kabar denganku.”
“Berarti itu membuatmu tak merindu saya?”
“Iya,rindu itu untuk mereka yang tidak bisa apa-apa. Seperti adikku yang masih kecil,dia tidak punya cara menghubungi ku. Kau kan punya cara.”
“Benar  juga.”
“ Jarak kita sangat jauh dari sudut pandang kilometer.”
“Ya, mau gimana lagi.”
Tiba tiba aku terdiam  teringat  kalimat joko pinurbo “jarak sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.”
“Kau sudah makan.” Tanyaku .
“Sudah.”
“Sial! Tidak ditanya balik.”
“Bagaimana tentang kita? Kau jauh dari saya.”
“Ya gak gimana-gimana. Pilihlah yang dekat saja kalau begitu”
“Aku tidak mau, aku hanya ingin dirimu.”
“Oh”

“Apakah kita tetap kita?”

“Lihat saja nanti, sebentar, kenapa kau berani menyebut kita?”
“Karena aku dan kamu hanya orang dua, kalau lebih dari dua kau bisa sebut kami.” hatiku bertanya kenapa aku terlalu kontekstual.
“Oh seperti itu, darimana kau tau kita berdua saja?”
“Berarti kau sedang ditunggu dan menunggu seseorang? Ya sudah sebut saja kami.”
“Bagaimana yaa”  dengan mata melihat ke atas
“Langgeng terus untuk kami,kita lihat saja akhirnya kitamu itu kitaku atau kitanya.”
“Iyaaaaa”
Memang sengaja  a–nya kau panjangkan agar aku percaya.
Aku diam, memikirkan bagaimana bisa cinta segitiga. Aku ingat beberapa rumus segitiga   ½ alas  kali tinggi. Oh iya itu rumusnya luas.  Kau dan dia adalah panjang alas. Agar aku mendapat luasnya cinta segitiga, aku harus membagi dua alas dan mengkalikan tingginya atau aku jadi  tinggi saja agar aku dikalikan dengan alas. Tapi nanti aku dibagi dua akhirnya. Dulu aku sekolah ngapain aja kok masih bingung sama rumus.
“Mengapa kau diam saja.” tanyamu
“Tidak apa-apa. Apa kau tahu tentang cinta segitiga?”
“Tidak”
“Hati-hati di sana,”  sialan kata itu terucap
“Iyaaa.”
Lagi dan lagi a-nya dipanjangkan.
“Apa benar kau menjaga hati untuk saya.”
“Iyaaaaaa.”
“Aku mau bicara padamu sebentar”
“Iya,apa?”
“Aku sebenarnya mencintaimu dan tak rela kau pergi.”
“Hah, apa?”
“Kau kaget?”
“Kaget apa? Aku tidak mendengar.”
“Aku sebenarnya…”
“Ayo cepat 5 menit lagi busku datang.”
“Aku ingin ke kamar mandi. Disini dingin .”
“Baiklah, saya tunggu disini.”
Aku bergegas ke kamar mandi untuk kencing. Sialnya, melihat closet yang menganga perutku ingin membuang sesuatu.  Sialnya lagi sembelit, dia tidak mau keluar cepat dari perut.
Setelah itu aku pergi ke lorong tadi, kau sudah tiada. Ku lihat di kaca, kau sedang bicara dengan laki-laki dan kelihatanya dia telah membawakan kopermu. Lelaki  itu berjabat tangan padamu lalu mencium ubun-ubunmu. kau melambai kepadanya.
“Sial! Tak ada yang lebih tabah daripada ditikung ketika ngising.”
Aku lari melewati lorong itu. Kali ini aku merasa seperti Rangga.  Aku sampai di sisi kanan bus dan lelaki itu  terakhir ku lihat di sisi kiri bus. Dari atas bus kau melambai kepadaku. Terlihat buram karena kacanya berembun. Aku hanya senyum dan melambai padamu. Busnya akhirnya berangkat perlahan. Tanganku mengepal, sepertinya terminal memang tempatnya perkelahian. Akhirnya aku sudah bersiap lari dan memukul. Berlagak seperti Genji di Crows Zero. Busnya lewat, lalu aku melompat. Di sebelah sana hanya orang orang dagang tahu berbaju hijau.
“Sialan!” aku berjalan pulang dengan bau matahari dan rambut yang sudah tak  berkilau. Berjalan dengan segala kehancuran. “Tuhan mengapa cinta itu seperti kebelet ngising datangnya tak kenal waktu dan suasana.  Semua tegantung eksekusinya, kita menahan atau  melepaskannya.”
Beberapa jam kemudian, dering telepon genggamku berbunyi dan pesan darimu terpampang di layar “Aku sudah sampai.”
“Aku juga sudah sampai.”
“Memangnya sampai dimana?”
“Pada daerah yang gersang tak di tumbuhi air, bernama hilang. Disini aku sedang memupuk semuanya”
Mengapa juga aku merasa kehilangan. Kehilangan hadir karena kita merasa punya. Sedangkan manusia di dunia ini tidak punya apa-apa. Ternyata  puncak jauh bukan kilometer tapi semua yang bersebrangan.  Aku ingin membunuh perasaan saja tapi aku kebelet ngising lagi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar