Pada era digital seperti ini, Kita bebas berpendapat dengan sebebas-bebasnya di
dunia maya. Karena dunia maya merupakan
dunia rekaan yang sangat berbeda dengan dunia nyata kita. Kita bebas berkomunikasi
dengan siapapun. Kita bebas mengakses apapun. Kita bebas melakukan apapun. Dapat
diartikan bahwa dunia maya adalah dunia
kebebasan yang tidak akan kita temui pada dunia nyata.
Salah satu kebebasan yang sangat
disenangi adalah kebebasan dalam mengunggah apapun. Salah satunya adalah
berita. Di dunia maya semua orang berhak menulis berita, berhak mengabarkan
sesuatu pada khalayak di muka bumi yang saling berjejaring satu sama lain. Di
sisi lain kita juga bebas membaca dan menerima hingga memercayai sebuah kabar
yang disebarkan oleh orang lain. Terkadang kita tidak tahu siapa penulis berita
tersebut. Tiba-tiba saja berita itu muncul di beranda media sosial kita. Maka
dari itu, pada dunia maya mudah sekali kita medapat sebuah informasi yang belum
diketahui tingkat kebenarnnya atau kabar kabur. Bahkan yang lebih parah lagi
adalah berita bohong biasa disebut hoax.
Berita bohong atau hoax adalah
musuh kita sedari dulu. Kita ingat
sebuah politik devide et impera
yang diterapkan pada masa kolonial oleh bangsa eropa. Devide et impera
atau politik adu domba digunakan
untuk mengadu domba warga Indonesia yang jelas melaui berita bohong yang mereka
buat. Hingga menyebabkan adanya perang antar
saudara di bumi pertiwi. Hal ini mirip
seperti yang terjadi dengan masa kini. Ada oknum yang sengaja mengadu domba
kita melalui berita bohong di dunia maya. Dikarenakan hal itu, kita terkadang
melihat orang yang saling mencaci-maki satu sama lain di platform media sosial kita. Padahal sama-sama sebagai warga
indonesia, mereka bertengkar karena dipicu oleh berita bohong atau hoax. Hoaks
adalah penyebab ketidakrukunan Indonesia di dunia maya. Perpecahan memanglah
yang diharapkan oleh ‘pengadu domba’. Sehingga dengan adanya perpecahan akan
digunakan untuk kepentingan tertentu.
Jika dulu para penjajah menggunakan
berita bohong untuk mengadu domba bangsa kita dengan mudah dapat dipercayai.
Karena pada masa itu orang-orang Indonesia memang kurang dalam Pendidikan .
sekarang zaman sudah berubah, pengguna media sosial pun adalah gologan orang
yang berpendidikan. Lantas bagaimana bisa, kita masih dapat diadu domba dengan
berita bohong atau dengan isu-isu murahan yang dipelntir sedimikian rupa
untuk memecahkan persatuan di Indonesia. Sebuah kutipan dalam film bumi manusia
yaitu “seorang yang terpelajar seharusnya sudah adil sejak dalam pikiran.”
Kutipan tersebut dapat mengingatkan kita sebagai pengguna media sosial yang
mayoritas kaum Pendidikan, seharusnya
tidak mudah menghakimi, mengadili sesuatu. Sehingga kita harus mengetahui
sebuah faktanya sebelum kita mengadili sesuatu.
Maka dari itu kita harus pandai
melakukan filterisasi terhadap sebuah kabar yang diunggah di dunia maya. Kalau
bisa kita juga ikut melakukan riset,lalu membagikan apa yang sebenarnya sebagai
upaya validasi berita. Mari menjadi warganet yang cerdas. Tidak mudah
menghakimi,tidak mudah menyalahkan dan tidak mudah terprovokasi. Untuk
kerukunan Indonesia maya. Kerukunan Indonesia maya akan berdampak kepada
kerukunan Indonesia raya. Kerukunan Indonesia raya adalah kunci dalam membangun
Indonesia kedepannya. Melalui sebuah kerukunan kita akan mencapai “SDM Unggul,
Indonesia maju” istilah yang telah
digaungkan pada HUT KE-74 Indonesia ini. Sekarang kalau tidak rukun bagaimana
bisa unggul? justru yang terjadi adalah saling menjatuhkan untuk mengungguli.
Mari kita merdeka di Indonesia Maya. Merdeka dari
berita bohong dan merdeka dari perpecahan di dunia maya. Sehingga kita kembali
rukun untuk membangun Indonesia dengan presiden yang baru saja terpilih. Sebab
sehebat apapun presidennya kalau rakyatnya tidak rukun bagaimana bisa maju?
Bukankah struktur pemerintahan yang paling kecil di Indonesia adalah RT atau
Rukun Tetangga? Sudah jelas, berjalannya pemerintahan dan kemajuan bangsa kita
harus didasari kerukunan, bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar