Semenjak munculnya
filosofi kopi, barista kopi melejit habis-habisan. Sebuah film yang
menggambarkan bagaimana kesenangan seorang barista dengan segala tetek-bengek
keasyikan dalam menggeluti dunia kopi. Diperankan oleh Chiko Jeriko yang
notabennya orang yang sudah tampan. Sehingga barista memiliki sebuah image
yang keren dan mbois. Siapa yang tak terkesima ketika barista menggambar diatas kopinya yang
disebut latte art. Wanita mana yang tidak terkesima terhadap seorang
barista yang memiliki penampilan menarik dan memiliki keahlian yang ulung.
Ditambah lagi menggunakan apron yang
menggantung pada leher untuk melindungi agar kopi tidak terkena baju. Pekerjaan
yang lepas dan tidak pernah memakai seragam. Bekerja yang sesuai dengan passion
seperti milenial pada umumnya.
hal itu yang
merundungi kepalamu dua tahun lalu. Kau yang berasal dari lingkungan pesantren
yang taat agama. Kau yang dulu bercita-cita sebagai seoarang abdi negara.
Sekarang tiba-tiba membelokkan cita-citamu demi memiliki sebuah eksistensi
dengan menjadi barista. Kini kau memilih jalan hidup menjadi seorang barista
yang bertolak belakang dengan latar belakangmu. Kau dengan bangga menepuk dada
dan mengaku seorang barista. Kau yang berfilosofi setiap meminum kopi. Kau yang
senantiasa tidak mendukung pembuatan kopi instan karena menurutmu kopi instan
adalah produk-produk kapitalisme yang tidak memperdulikan nasib para petani
kopi. Kau yang selalu memikirkan bahwa
kopi berkontribusi dalam perkembangan negeri karena jika meminum kopi harus berdiskusi tentang negeri.
Mampus kau! Kini
kau yang anti kapitalisme dan mendukung sebuah pembelaan terhadap petani.
Sekarang kau memilih menjadi barista dan
menjadi budak kapitalisme. Kini hidupmu menderita bukan? Nasibmu tergantung pada tuangan air panas dari teko ini.
Ideologi teraduk-aduk dalam kopi-kopi yang kau aduk pada cangkir keramik itu sesuai jarum jam.
Perihal makanmu besok itu pun berkat hedonisme para orang-orang di depanmu itu.
Kau hanya bisa terduduk merenenung di balik mesin penggiling kopimu, sedangkan mereka membayar uang-uang mereka
meskipun kau patok harga kopimu semahal mungkin. Walaupun begitu apakah kau
akan kaya?
Mengapa kepala
dipenuhi pemikiran seperti ini?
Kalau aku
berpikiran seperti ini setiap malam apakah aku akan kenyang?
**********
Aku adalah seorang
barista yang bekerja pada sebuah kedai yang memiliki konsep minimalis di Malang.
Tepatnya berada di Sudimoro. Kedaiku berwarna hitam dengan lukisan-lukisan
kaligrafi italia. Kursi-kursi kayu seperti kedai kopi kekinian. Aku bukan pemilik kedai ini, aku bekerja
disini karena dibawa oleh kawanku yang dulu juga bekerja disini. Aku seorang
perantauan dari Surabaya. Menetap di Malang sudah 2 Tahun ini. Demi mencari
jati diri aku memilih merantau di kota orang. Awalnya aku menetap di Malang
untuk latihan intensif menjadi prajurit
di daerah sekitar Lapangan Rampal. Aku kerap dipanggil dengan nama Sam Su oleh
kawan-kawan. Mungkin, karena sam adalah panggilan akrab anak-anak Malang dan SU mungkin karena aku berasal dari
Surabaya. Atau mungkin su adalah kependekan dari asu yang artinya anjing. Karena Surabaya yang merupakan musuh bebuyutan dari
kota Malang. Mungkin itu yang membuat aku di panggil se-istimewa itu.
Semenjak aku gagal
dari pendaftaran menjadi abdi negara, aku menjadi jatuh cinta pada kota ini.
Kota yang dingin, kota yang disebut swizterland van java. Kota yang
katanya banyak penyuka sesama jenis,hal ini terbukti di dekat stasiun kota baru
masih banyak mas-mas yang memakai rok mini. bagiku hal itu menunjukkan bahwa Malang adalah
kota cinta. Bahkan cintanya tak terikat oleh jenis kelamin. Kota yang terkenal
dengan 40 anggota DPR-nya yang korupsi berjamaah . Tapi bagiku itu salah
perorangannya bukan salah kotanya. Malang yang terkenal sebagai kota Pendidikan
dan mahasiswi-mahasiswi yang cantik-cantik, mulai dari ukhti-ukhti di UIN
hingga mbak-mbak yang berbicara lo gue, which is dsb. Yaitu mbak-mbak
Universitas Brawijaya. Bahkan penduduk aslinya juga cantik-cantik sebab secara
letak geografis malang diapit Gunung-gunung. Kalau orang Malang biasanya
menyebutnya dengan kodew ngalam. Karena malang sangat dingin, untuk
memecahkan kedinginannya Malang aku setiap hari mengopi. Menemukan warung kopi
di Malang cukup mudah mungkin Malang bisa mendapat predikata city of café. Disinilah cikal bakal aku menjadi barista,
karena kegagalanku aku pantang pulang. Aku sudah jatuh cinta pada kota ini.
Dua tahun merantau
disini ternyata membuat hidupku hanya begini-begini saja. Menjadi seorang
barista ternyata tidak sesuai dengan ekspektasiku sebagai sudut pandang peminum
kopi. Ternyata kedai ini tak bisa seramai kedai yang lain. Suatu ketika aku
melihat wanita cantik mengopi di kedaiku. Dia selalu datang dengan wajah
lesunya membawa dua buah buku yang ku lihat beli di pasar buku Wilis. Kedai itu
kebetulan sepi. Dia yang senantiasa memakai jilbab warna ungu. Dia selalu duduk
disebelah kiri dari bar tempatku membuat kopi. Tempat itu tempat favoritnya
karena disitu berada colokan untuk laptopnya yang tidak bisa dipakai ketika
tidak diisi baterainya.
Dia selalu memesan kopi tubruk dampit, bagi ku
ini gila. Seorang wanita selugu dia. Doyannya dengan kopi yang pahit. Kopi
tubruk dampit juga kopi favroitku. Sialnya aku jatuh cinta sebab hal
sesederhana itu. Aku selalu suka ketika dia memanggilku dan bertanya apa
password Wifi. Kita yang tidak saling kenal, namun aku jatuh cinta sendirian. Sebab
Dia mengembalikan semangatku untuk terus menjadi barista. Hampir setiap malam
terjadi. Aku berharap dia akan memesan es kopi, sebab di gelas es kopi aku akan
menulis Namanya. Setidaknya jika aku tau namanya aku akan sebut namanya dalam
doaku. Aku selalu berharap agar wanita ini segera memesan es kopi.
Memang Tuhan
sesuai dengan perasaan hambanya. Pada suatu malam di tempat biasanya dia
bersemayam, ada sebuah makalah tertinggal dengan atas nama Nadhifa Kurniawati.
Ternyata wanita yang ku kagumi bernama Nadhifa.
Akhirnya aku menemukan siapa Namanya. Esoknya, dia datang dengan wajah
sumringah. Pada hari ini, apa yang ku gambar dalam keningku terwujud juga. Dia
dengan sumringah memesan sebuah es kopi. Aku sigap menebak Namanya dengan pede
aku berkata “ es kopi atas nama mbak Nadhifah Kurniawati ya?”
“bukan mas, atas nama Nia saja ya?
Tapi masnya kok tahu nama lengkap saya”
“kemarin saya menemukan makalah ini
mbak,ini bukannya makalahnya mbak?”
“oh iya mas ini, revisian saya. Terimakasih ya mas.”
“oh iya mas ini, revisian saya. Terimakasih ya mas.”
Tak lama datanglah seorang lelaki
yang duduk di depan, Nadhifah. Duduk berhadapan dengan es kopinya. Lalu Nadhifa berkata pada lelaki di depannya
“ kopi tubruk dampit disini enak,
kamu pesan gih. Aku sering ngopi disini tapi tidak denganmu. Kau sibuk menjadi
aktivis kampus”
Lelaki tersebut tidak lebih keren
dari diriku. Jelas tidak se-mbois aku.
*****
Pada malam jahanam
itu, mampus! kau rasakan kopi lebih pait dari biasanya. Air dalam teko lebih
panas dari biasanya. kau yang menemukan semangat untuk bangkit. Kau yang
tiba-tiba kehilangan semangatmu. kau yang membuat kopi sesedap itu tidak
mendapat gelar sebagai pembuat kopi yang enak. Apakah memang seharusnya seorang
barista tidak dikenang Namanya? Manusia terkadang mengakui bahwa sebuah karya
itu bagus. Tapi tidak mengakui siapa penciptanya. Kamu yang mengagumi sesosok Nadhifa
dan kau pula yang lupakan siapa pencipta
Nadhifah. Rasa ini melebur diantara
biji-biji kopi yang masuk grinder. Lebur, remuk dan tak sengaja kau
seduh sendiri. Sialnya itu kau sajikan ke orang-orang di di depanmu. Sehingga
akhri-akhir ini kopi lebih pahit dari sebelumnya.
Adakah kepahitan
yang lebih pahit dari realita bahwa manusia mencintai kebendaan saja? Dan barista yang tak disebut namanya?
****
Semenjak malam
itu, aku kembali lesu. Menjadi barista memang tidak membuatku memiliiki
kebanggaan apa-apa. Aku muak dengan pekerjaan ini. Aku memutuskan untuk pergi
ke daerah yang lebih tinggi yaitu di Cangar Batu.masa bodoh dengan PHK atau aku
tidak di gaji oleh pemilik kedai. Menyisir jalan-jalan macet di alun-alun Batu.
Sebelum pergi ke Cangar aku menyempatkan diri masuk ke salah satu supermarket
untuk membeli sebotol kopi instan. Dalam supermarket aku melihat tulisan
‘memecahkan berarti membeli’. Aku bertanya pada kasir supermarket disini. Katanya memang benar memecahkan berarti
membeli. Aku yang sudah tidak punya uang lagi. Ini tangal tua dan aku
memutuskan untuk tidak bekerja pula. Aku membuka pintu kulkas dengan hati-hati
aku takut memecahkan sesuatu disini.
Aku keluar
supermarket, aku pergi ke Cangar dengan motor Honda astrea milikku. Sesampainya
di Cangar aku melihat rembulan yang sedang ranum-ranumya. bagai buah manga yang
siap untuk dipetik. Aku memang sudah jatuh cinta pada kota ini, aku bertambah
cinta semejak melihat Nadhifah. Oh Nadhifah, seandainya kau tahu berkatmu aku
semakin mencintai kotamu. Tapi berkatmu pula aku patah hati atas keputusan
Tuhan yang tidak adil. Sayangnya semua
terjadi di Kotamu. Salahkan Tuhan jika semua ini terjadi di kotamu Nad! Nasib
di tanah ini tidakbegitu jelas, jatuh cinta dengan warganya juga kandas. Ah!
Begitulah filosofi kopiku malam ini. Aku benci filosofis dalam kopi. Aku muak
dengan semua ini!
Oh tidak. aku tidak sengaja melemparkan botol kopi ini
ke rembulan. Ku kira rembulan akan baik-baik saja. Ternyata rembulan tak sekuat
punggungku selama ini. Memang si Pencipta rembulan adalah Yang Maha Tidak
sempurna. Jika memang Dia Maha Sempurna seharusnya nasibku tak se-menderita
ini. Sial aku justru memikirkan pencipta rembulan Aku tak sadar rembulan itu
pecah. Rembulan pecah berkeping-keping, kepingan-kepingan tajam itu terlihat
berserakan di jalanan cangar dan beberapa ada yang menancap di bukit-bukit.
Tapi aku juga tidak meraa bersalah tentang kejadian ini. Jika tidak ada
rembulan, maka tidak ada juga yang ngopi lagi, tidak ada shift malam. Malang akan selalu pagi, pagi adalah sebuah
tempat yang mantap untuk seorang barista terlelap. Rembulan tak ada, fajar
sudah bangkit. Aku memutuskan untuk berendam di wisata air panas Pacet sebelum
aku pulang dan terlelap. Hidup teryata bisa sangat tenang seperti ini. Tapi
uang siapa yang ku gunakan untuk membeli rembulan yang tak sengaja ku pecahkan
ini. Sesuai peraturan awal memcahkan berarti membeli. Tapi ku rasa Tuhan tidak
se-materialistis itu. Katanya dia maha segalanya, seharusnya buat lagi dong.
Matahari terbit,
aku memutuskan untuk turun ke kota. Jalanan batu cukup lenggang, tidak terlihat
aktivitas manusia yang akan bekerja. Di
perjalanan aku melihat fotoku terpampang di tembok-tembok kota. Semua
radio-radio menyebut namaku. Pengeras suara masjid menyebut namaku. Ku kira aku
sudah mati, karna namaku disebut di pengeras suara masjid atau aku di baptis
menjadi Tuhan karena aku berhasil memecahkan rembulan. Ada yang melihatku dan
dia berteriak
“Aku bertemu
pemecah rembulan”
“ iya, Aku pemecah
rembulan. Ada apa? Apa kau ingin menjadi hambaku?”
Tiba-tiba semua
mengejarku. aku menaiki motorku dengan kencang. Aku melihat banyak sekali mobil
bertabrakan. Peluru-peluru salah sasaran. Banyak darah di jalan-jalan hingga
banyak mayat-mayat korban kecelakaan di depan Balaikota Among Tani. Aku pergi
Alun-Alun Batu hendak bersembunyi diantar pedagang-pedagang yang berjualan
cukup mahal itu. Ternyata bianglala alun-alun batu sudah dirobohkan dan siap
sebagai tempat pemanggangan tubuhku. Aku yang ketakutan tersebut melarikan diri
ke daerah Malang kota. Aku akan bersembunyi di kedai kopiku. Berlindung di
balik bar atau aku akan tidur di kontrakan kumuhku.
Memasuki daerah
jalan soekarno hatta ternyata macet total. Aku biasa saja karena ini sudah
rutinitas warga Malang untuk macet-macetan. Terdengar percakapan dua mahasiswa
dengan jaket Universitas Brawijaya.
“hari ini penyebab
macetnya beda”
“maksudnya apa?”
“ di depan UB
gerbang belakang semua polisi berjaga-jaga”
“bukankah itu
sudah biasa, mereka kan cari ceperan?
“ polisi berjaga
untuk sebuah tempat yang katanya pembakaran untuk pemecah rembulan di Batu”
Mendengar
percakapan mereka, aku kaget. Ternyata di Malang kota. Aku hendak ditangkap
juga. Aku memarkir motorku. Lalu mengendap-endap turun menyisir sungai di bawah
jembatan jalan soekarno hatta. Aku menyisir pingiran sungai. Aku optimis tidak
ada yang melhatku, sebab orang-orang kota tidak akan memperdulikan hal-hal yang
bukan urusannya. Kota terlalu apatis. Malang ternyata sudah bukan kota cinta lagi.
Itupun gara-gara aku. Aku bersandar di
bawah jembatan belakang Polinema. Jembatan yag biasa digunakan warga Malang
untuk menghindari kemacetan di jalan soekarno hatta. Aku istirahat disitu dan
bersandar sejenak.
****
Sam, Kau sudah
berhasil memecahkan rembulan. Kau sudah bisa tidur di siang harimu. Malang
sudah tidak ada malam lagi. Kau juga berhasil menghindari realitamu menjadi
barista. Kau sudah tidak wajib melayani para-para hedonis di kedaimu. Sam,
mungkin kau akan cocok hidup di desa. Lalu bercocok tanam menjadi petani kopi.
Hidup di desa, lalu ngopi ya tinggal ngopi. Tidak perlu filosofi-filosofi lagi.
Disana hidupmu akan tenang. Tapi sam, jika kau kembali ke Surabaya dan
menghilang disana. Kotamu cukup metropolitan dan tidak ada petani kopi. Jika kau
pergi ke Dampit, Dampit ini kan termasuk Malang juga. Kau akan dikenali disana.
Bukankah kau ingat daerah penghasil kopi di Pasuruan yaitu Ledug Prigen. Disana
terkenal kopi ledug yang rasanya mirip dengan kopi gayo. Ledug pun dekat dengan
tretes. Tempat prostitusi yang terenal di Pasuruan. Malammu akan terasa seperti
surga disana. Tapi gapakah disana
masih ada malam? Aku membunuh malam, aku membunuh penghasilan para pelacur juga.
Membunuh peghasilan tukang nasi goreng juga?
Aku membunuh
banyak orang?
****
“kau seorang barista,
kau pasti masuk surga karena banyak kesenangan yang kau buat. Kau orang yang
baik. Kau menyenangkan orang-orang. Kau memudahkan orang-orang. Bukankah ibadah
yang paling tinggi adalah membahagiakan orang lain?”
“ tapi menjadi
orang baik tidak membuatku kaya?”
“
memang orang baik akan miskin, bukankah nabimu juga dari golongan orang
miskin? Tapi tidak ada yang mati kelaparan. Itu karena mereka diasuh oleh Tuhan yang Maha
Kaya.”
“kau betul juga tapi kau siapa?”
Tiba-tiba orang itu hilang. Aku
kembali tersadar.
Jadi
aku ini orang yang beribadah cukup banyak, aku adalah orang baik. Aku orang
yang akan masuk surga pasti Bersama para nabi. Daripada aku berangkat ke Ledug
dan menikmati surga di tretes aku akan pergi ke surga sebenarnya saja. Aku
mengambil apron di tasku. Lalu apron ku pasang dalam tubuhku agar Tuhan
mengetahui aku adalah barista. Setelah apron itu ku pasang. Aku melompat ke dalam
sungai tersebut.
Oh Malang, Nadhifah dan kopi
selamat tinggal.
******
“barista itu akhirnya masuk surga,
dia minta dibuatkan kopi oleh Tuhan, tapi di surga tidak ada air hangat.
Barista itu disuruh ke neraka sebentar”
“lalu apa yang dia lakukan di
neraka yah?”
“lalu Tuhan berkata pdannya nak?”
“apa yang dikata Tuhan padanya yah?
“mengapa kau bangga menjadi
barista, bukankah di depanmu banyak kebencian. Kopimu menyerap
kelicikan-kelicikan dunia. Kau tidak ingat bahwa Munir putra Batu sendiri
dibunuh diatas kopi. Banyak kelicikan yang dibuat diatas kopi. Kau bilang aku
tidak adil padamu. Sebenarnya kalua kau
sabar kedai kopi satu sudimoro akan jadi milkmu. Ini Aku punya rencana Untukmu.
Kau menganggap aku tidak sempurna padahal hidupmu sudah Ku buat sempuna itu.
Tapi kau sendiri bagaimana? Kau lupa bahwa barista itu harusnya menghargai
prosesnya. Kau ingin sesuatu dariKu dengan instan? Beginikah barista yang
katanya anti kopi instan?”
“lalu apa kata barista itu yah?”
“ neraka tidak sehangat kedai kopi ketika
akhir bulan.”
“ sebenarnya siapakah barista itu”
“dia adalah lelaki yang mencintai Nadhifah,
ibumu itu.”
“sekarang aku takut untukmencintai
diam-diam yah!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar