Jumat, 08 Februari 2019

Sua : AKHIR PERTUNJUKAN TERAKHIR


AKHIR PERTUNJUKAN TERAKHIR
Tanah surga memang indah dan sangat amat indah banyak pula keindahan memukau setiap mata yang mencoba meneggelamkan matanya pada tanah surga ini. Keindahan di tanah surga ini tidak ada habisnya kolam susu yang bisa seketika membanjiri semua orang disini. Tida topan dan yang irsau di tanah surga ini. Semua tentang keindahan dan estetika. Saking indahnya, penikmatnya juga tak ada tidurnya. Saking enaknya juga jalanannya bisa ngasih makan. Perempatannya juga bisa njajah bidadarinya. Termasuk sebuah jalanan yang sangat membuatku tertawan dalam kemenawanan. Jalan yang lurus bersimpang empat dan sudutnya ada warung kopi bersandar tembok tak di cat di biarkan abu-abu. Sebelahnya ada tembok-tembk di vandal dengan tulisan-tulisan tak bertuan dengan kata-kata ‘menolak lupa!’ dan di gambar seorang laki-laki yang dari Kota Batu katanya mati di Pesawat. Ada juga gambar wanita dari Sidoarjo yang gambarnya sangat khas dengan rambut keritingnya.
Entah begitu rupawan vandal yang di ciptakan. Lampu lalu lintas yang tak adil selalu memprioritaskan merah lebih lama. munir. Lalu lalang kendaraan adalah kawan, asap kendaraan adalah pelukan. Mengetuk kaca jendela dan menadah adalah olah tubuh kita sebenarnya.Yah, beginilah kehidupan kami.
Disinilah kami mengadu pertaruhan hidup, ya, aku dan kawan kawan paham hidup di sini adalah replika surga. Karena kita disini juga replika adam. Karena adam mencoba memakan khuldi kita semua harus mencoba surga yang baru. Aku adalah aktor jalanan. Kalau lampu merah aku berakting habis-habisan, atau tetrikal puisi atau kadang bermonolog ria. Aneh ya sastra biasanya turun kejalan ketika ada penindasan saja tapi ini karena aku juga butuh makan. Ku piker kelaparan dan menganggur adalah penindasan. Sebenarnya kalau boleh milih ya gak turun ke jalan. Ada teman saya namanya dwiyono yang kerap di sapa Kang Iyon, Kang Iyon ini adalah seniman jalanan yang sudah menjadi sesepuh kalau menurut saya. Karena Kang Iyon sebenarnya bisa semua seni tapi kalau dijalanan dia memilih mengabdi dalam seni tari. Dengan modal speaker kecil berwarna abu-abu miliknya badannya meliuk-liuk demi lauk untuk  keluarga di rumah. Satu lagi seorang bocah belia yang  biasa dipanggil Ucil dia adalah korban broken home bahasa kerennya. Bahasa tidak kerennya pegatan. Dia memilih ikut ibunya, ibu Ucil  adalah seorang yang bisa disebut pekerja malam. Ucil adalah seorang pemusik, ilmunya diperoleh ketika dia pernah ikut kakeknya, Semua musik dia bisa. Tapi kakeknya memberi kentrung atau ukulele saja. Tidak ada yang berani mengusik kami, karena tidak ada yag berani dengan Kang Iyon.
Bayang- bayang kita takuti hanyalah dibawa ke suatu tempat entah tempat apa itu yang jelas yang membawa kita adalah orang yang merasa lebih baik dari kita. Bajunya seragam punya pentungan di celananya. Sabuknya tidak rapet celananya melorotan. Kita dinaikkan ke mobil mobil terbuka dan dijadikan pameran di jalan-jalan perkotaan lain.
Hari itu terik mentari serasa mencambuk leher-leher sedangkan aku sendiri datang kesiangan lebih dulu Kang Iyon dan Ucil. Bahkan Ucil udah rehatkan diri di warung di ujung kiri lampu merah. Aku datang mendekat Ucil sedang menyiapkan diri dengan memutar-mutar ujung gitarnya dan memetik gitarnya. Ku tepuk dia dari belakang  “Cil ngapain kamu kok udah istirahat aja”. “Lelah bang, panas banget hari ini. Lah abang kok baru dateng” saut Ucil sambil menaruh kopi hitamnya. “biasa lah cil, efek dua teguk semalam hehehe” jawabku. Ucil terlihat tidak seceria biasanya. Aku tanya kepada dia “Cil kamu kok dungaren toh, jam segini udah lesu” . Ucil  menjawab dengan menyadarkan diri ke tembok “ aku kangen kakek bang, kakek yang memberiku kentrung ini , kata kakek iniloh aji-mu . Aji itu apa sebenarnya bang”. “Aji itu senjata cil” jawabku langsung bediri setelah siap-siapku selesai. Ucil hanya manggut manggut dan langsung ikut berdiri. Akhirnya kita memulai rutinitas, tak lupa aku menyapa Kang Iyon. “ kamu ini jam segini baru keluar, pemuda macam apa kau ini”. “hehehe” aku menyembunyikan muka dari Kang Iyon.
Tepat jam 12.00 Kang Iyon tiba tiba langsung lari sangat kencang kalau orang jawa bilangnya ini sifat kuping.  Dia lari dari simpangan kiri ke simpangan kanan untuk memanggil Ucil dan langsung lari memanggilku. Aku ikut lari saja karena jika aku tanya gak mungkin Kang Iyon jawab atau aku malah di tempeleng. Ucil ikut lari tapi mulutnya terus berkata “ada apa kang, ada apa bang.” Berhentilah kita  di salah satu fly over. Kang Iyon bercerita “Gini tadi para petugas maha benar itu udah mulai obrak-abrik lapak, disana pedagang pedagang udah gak boleh ngelapak lagi”
“semakin hari hidup ku serasa terancam kang, apa aku harus pergi dari jalanan kang?” Tanyaku kepada Kang Iyon
(plak) Kang  iyon tiba-tiba menampar mulutku yang belum selesai bicara
“terus dimana jiwamu akan kau ombang-ambingkan? Lantas kemana kekasihmu akan kau bawa lari ke tujuanu jika jiwamu sendiri tidak kuat berdiri!” jawab Kang Iyon.
Kang Iyon kelihatan marah besar kepadaku, setelah marah dia langsung pulang tanpa sepatah kata pun. Tepat waktu sudah agak petang ternyata lari kita cukup jauh sekali. Aku berjalan bersama Ucil untuk pulang. Karena beginilah rutinitas kita setelah kena obrak. Jalan menjadi lebih jauh lagi. Di perjalanan aku dan Ucil berhenti sebentar untuk sekedar membeli minuman es rasa-rasa di jalan. Ucil  kelihatan sedih aku dekati dan bertanya “ Cil kamu kenapa lagi.”
“Ibu bang,ibu.” Saut Ucil.
“Kenapa ibumu cil”
“Aku khawatir ibu, aku tiba tiba kepikiran ibu bang”
Aku tau ibu Ucil itu kerjanya jadi wanita penghibur . Ucil juga sebenarnya udah tau tapi aku merasa gak enak jika bilang disini. Kuberi dia minuman tadi dan aku menyulut rokok sembari berkata “ Ubah pikiranmu cil, doakan ibumu selalu. Walau kau orang jalanan setidaknya kau masih berTuhan. Kau boleh berdoa kapanpun dimanapun,Walau ibumu kerjaannya begitu, mintalah kepada Tuhan agar ibumu tetap di lindungi. Karena kerja ibumu,kerjamu, kerjaku tidak lebih hina dari kemunafikan mereka yang maha benar member cap bahwa jalanan cukup jahat dan kotor.” Aku mudah sekali memang memberi solusi karena aku hanya seonggok daging dikuasai diksi.
Ucil kelihatannya sedikit mengerti tentang penjelasanku.
Mendengar dering telfon genggamku, aku mengangkatnya ternyata dari kekasihku. “bagaimana bang kau baik baik saja bukan aku khawatir.”
“aku baik baik saja dik, santai saja”
“apa kau yakin bang? Firasatku tidak enak”
“sudahlah salahkan firasaatmu jika itu mengkhawatirkan”
“iya bang, sebenarnya aku mau cerita sesuatu”
Kekasihku bukan orang jalanan, dia seorang buruh pabrik sepatu yang bekerja dengan bayang-bayang PHK tiba-tiba tanpa pesangon. Sebab, pabrik itu sudah hampir bangkrut. Ku rasa kita sama orang yang terancam pada pekerjaannya masing-masing. Namun, bukankah setiap pekerjaan beresiko?
(wiuuw) terdengar suara  sirine. Aku mematikan telepon dan aku menarik Ucil ke belakang tembok tempat kita bersandar. Ternyata mobil bak berkursi lewat jalan ini, dengan isinya wanita wanita muda atau tua parasnya cantik semua. Ucil menengok sedikit dan melihat ternyata di kursi tersebut ada ibunya sedang duduk tertunduk.
Ucil melempar minumannya yang diplastik itu ke kakiku dan berkata “ibuku bukan orang baik, tapi jangan pamerkan ibuku di jalan-jalan dengan mobil itu. Aku kan malu sama kawan-kawan” Dia langsung lari. Aku mengejarnya ternyata hasilnya nihil. Dia meninggalkan kentrungnya disini.  Kang Iyon marah kepadaku dan Ucil kecewa padaku. Aku sangat bingung dan kecewa pada diriku sendiri. Seonggok daging yang di kuasai diksi. Aku pulang dengan penyesalan. Lants apa salah orang yang menghamba pada kata-kata berkata-kata? Apa hamba dari kata-kata harus berhati-hati dengan kata-kata. Lagipula kata Sukab pada Alinanya orang sibuk berkata-kata namun tidak ada yang mau mendengarkan kata-kata. Lantas megapakau serius dalam berkata-kata.
Esok hari aku kembali ke jalan, sengaja aku pergi pagi buta biar aku bisa cengkrama dengan Kang Iyon sebelum dia make up. Ku lihat Kang Iyon duduk di warung biasanya. “ada apa lagi kau kesini pemuda pecundang?” Kata Kang Iyon melihatku dari cermin riasnya. Aku menunjukkan kentrung Ucil dan menjelaskan kejadian Ucil kemarin. Kang Iyon santai menjawab “ yah gimana lagi le, ini sudah tanggungan orang-orang kaya kita. Ibu Ucil juga gak mau jadi begituan” . “terus gimana kang , Ucil ini” sembari ku ngambil rokok. “tunggu kabar gembira saja”. Jawab Kang Iyon.
Tiba tiba seorang lelaki paruh baya di samping kita langsung ngajak bersalaman. “Saya Sukoncoro, saya ingin kalian ngisi di gedung pertunjukan di jalan no.45, nanti yang hadir disana para pejabat tinggi. Karena saya lihat di jalanan ini ada penari ternyata akang. Ada yang penyair atau sastrawan jalanan. Kalian buat kolaborasi tapi ini kurang pemusiknya saja nanti saya carikan. Nanti disana kalian akan menyuarakan hasil pemikiran kalian”
“Tidak usah pak, saya punya pemusiknya si Ucil saja. Oke pak deal”
“silahkan datang ke gedung  itu untuk berproses dan berlatih mulai besok, jangan ke jalanan ini. Langsung kesana ya!”
Aku bertanya Kang Iyon “kang gimana kang?”
“Gimana apanya kau ini gendeng ya”
gendeng gimana kang?”
“aku tadi gak denger percakapanmu orang aku sedang  gambar alis. Bukankah orang gambar alis tidak boleh diganggu”
“Oalah kang, ituloh tawaran main di gedung pertunjukan itu yang sebelah sana depan para pejabat”
“aku mau tapi ini pasti ada apa-apanya karena kita gak kenal dan kamu grusak- grusuk setuju aja. iling le, kalau katanya Dewi Kunti kepada anaknya Bima pada lakon Dewa Ruci kalo gak salah begini berpikir yakin tanpa kewaspadaan akan mencelakakan dirimu. Jadi, sembarang kalir  itu harus di piker dulu. Jangan hanya bondo yakin-yakin saja. Kudu waspodo juga. Sekarng Mau gimana lagi lah wong setuju harus di turuti apapun yang terjadi hadapi. Lelaki itu yang di pegang omongannya.”
“Tapi ini kabar gembira kan kang?” Tanyaku
“bisa iya juga bisa tidak, panggil Ucil sekarang” Kang Iyon berdiri
Aku datang ke rumah Ucil dengan jalan kaki. Ku ketuk pintunya ternyata sepi. Yah mau gimana lagi, aku tanya tetangganya dia bilang keluar. Aku datang ketempat biasanya Ucil berdiam diri yaitu di sebelah kali karena kali ini yang mengingatkan Ucil dengan kakeknya yang memberi kentrung. Aku menjelaskan kepada Ucil tentang kemarin. Ucil langsung melompat dan memelukku “ Apapun bang, mudah-mudahan aku bisa membawa ibu pulang lagi dengan cara ini”
Akhirnya kita berproses di gedung setiap hari selama 2 minggu pada gedung tersebut. Pada malam sebelum kita tampil H-1 ,saat itu kita pulang melewati jalanan biasanya kita mencari kehidupan. Di situ sekarang sepi, di perjalanan Kang Iyon terlihat marah dan gebrak-gebrak suatu plakat di pinggir jalan. Aku dan Ucil melihatnya ternyata ada tulisan ‘Dilarang keras memberi pengemis,pengamen di jalan ini’.
“Jancuk, gak bisa dibiarkan . Kita di suruh main di sana agar jalanan ini sepi dari orang seperti kita!” Kang Iyon naik pitam.
“Terus apa kita harus tampil mengecewakan, kang?” Tambahku
Jangan, jangan mengingkari proses kita. Di panggung kita wajib menyenangkan tapi turun panggung beringas-beringas tidak apa apa”  Kata Kang Iyon yang mencoba menghela nafas.
Esoknya sebelum tampil pak Koncoro mendatangi kita dan berkata “sukses sukses sukses!” Kang Iyon senyum dan berkata “makasih pak” Ucil menarikku menjauh ketika sedang ada percakapan antara Kang Iyon dan pak koncoro. Ucil membisikiku “Bang itu orang yang di mobil, yang ngangkut ibuku bang iya aku ingat betul. Dia kayaknya orang penting soalnya dia duduk di sebelah kanan dari mobil kemarin”
Aku kaget, tapi setelah ku pikir bahwa anak kecil itu ingatannya memang kuat.
“Udah Cil ingat kata Kang Iyon tadi malam”
Akhirnya tepat pukul tujuh kita naik panggung pertunjukan dengan totalitas. Tepuk tangan bergemuruh sangat nyaring di telinga. Setelah turun panggung kita langsung bergegas ganti kostum dan tak mau lagi menemui orang itu dan kita gak gila bayaran dari mereka.
Sebelum keluar gedung Kang Iyon nyuruh aku diam di kursi kayu tua sebelah jalan keluar gedung pertunjukan dan dia pamit mau kencing. Aku dan Ucil bercengkrama sambil sedikit  mengumpat Tiba tiba pak Koncoro lewat dengan seorang temannya. Dia tertawa sinis kepadaku. Aku langsung berteriak “pak buat apa kau bawa kami kesini sebenarnya, aku ini orang jalanan pak. Jika kau ingin kami berkembang tidak usah bawa kami kesini biarkan kami disana saja”. Pak Koncoro menjawab “lihat mereka yang datang disini semua mengapresiasimu dan tidak ada yang menyesal”
“Kalau begitu kenapa anda datang, sedangkan anda sendiri membawa kami atas nama gangguan bukan atas nama hiburan”
“banyak omong kau”. Tiba tiba teman pak Koncoro memukulku  hingga aku tersungkur di Tanah dan  melemparku sejumlah uang.  Aku tak berani berdiri karena nyaliku sangat kecil. Aku melihat di belakang orang yang memukulku ada Kang Iyon yang menikamnya dari belakang, orang itu robek dari perut belakang. Koncoro lari karena takut akan di bunuh juga oleh Kang Iyon. Ternyata tiba-tiba dia jatuh ke aspal ku lihat ternyata kakinya di slempang oleh Ucil. Ucil memukulkan kentrungnya  ke kepala pak Koncoro hingga berdarah-darah dan kentrung Ucil hancur. Gagang kentrung yang sedikit lancip pun di tusukkan ke perutnya. Kang Iyon hanya mengacungkan jempol dari jauh.
Akhirnya kami di tangkap oleh pihak berwajib, kecuali Ucil karena dia masih kecil dan mau ditimpalkan ke siapa hukumannya jika orang tuanya juga gak ada. “Cil, tumbuhlah jadi seniman yang benar, dimanapun dan kapanpun. Jika prosesmu khianati prosesmu. Aji-mu sudah kau gunakan. Doakan ibumu, kakekmu dan kita, le”. Kata terakhir Kang Iyon ke Ucil. Ucil menangis melihat aku dan Kang Iyon dengan tangan terborgol.
Aku menelpon kekasihku
“Dik maaf abang udah bukan orang baik lagi, jalanan memang keras kotor pula. Kau pernah mengingatkanku terhadap pekerjaan kita harus siap menrima resiko. Aku sekarang sudah menerima”
“adik akan jadi pemaaf kapanpun bang, tidak ada kesalahan pada resiko.” jawab kekasihku.
Kang Iyon menelpon istrinya dan berkata “ hari ini bapak gak pulang.” Istrinnya hanya berkata “iya kang, tidak apa-apa”.
Sedang ucil berteriak “jika naik mobil ini bisa ketemu ibu saya mau ikuuuut!”
Maka akhirnya aku dan Kang Iyon keturutan naik mobil ini, tapi bukan orang jalanan lagi. Kita orang tahanan. Memang sejak dari dulu seni dan kriminalitas adalah kawan. Bergerak di seni lama-lama juga di Lapas. Naik mobil ini aku ingat Ucil yang akan banyak sekali ingatan mencekam dari mobil ini.
Untuk jalanan,seni, Nurlela,Ucil dan semuanya. Samono, pamit.


                                                                                                            Februari 2018
                                                                                                            30 Januari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar