AKHIR
PERTUNJUKAN TERAKHIR
Tanah
surga memang indah dan sangat amat indah banyak pula keindahan memukau setiap
mata yang mencoba meneggelamkan matanya pada tanah surga ini. Keindahan di
tanah surga ini tidak ada habisnya kolam susu yang bisa seketika membanjiri
semua orang disini. Tida topan dan yang irsau di tanah surga ini. Semua tentang
keindahan dan estetika. Saking indahnya,
penikmatnya juga tak ada tidurnya. Saking enaknya juga jalanannya bisa ngasih
makan. Perempatannya juga bisa njajah
bidadarinya. Termasuk sebuah jalanan yang sangat membuatku tertawan dalam
kemenawanan. Jalan yang lurus bersimpang empat dan sudutnya ada warung kopi
bersandar tembok tak di cat di biarkan abu-abu. Sebelahnya ada tembok-tembk di
vandal dengan tulisan-tulisan tak bertuan dengan kata-kata ‘menolak lupa!’ dan
di gambar seorang laki-laki yang dari Kota Batu katanya mati di Pesawat. Ada
juga gambar wanita dari Sidoarjo yang gambarnya sangat khas dengan rambut
keritingnya.
Entah begitu rupawan vandal yang di ciptakan. Lampu lalu lintas yang tak adil selalu memprioritaskan merah lebih
lama. munir. Lalu lalang kendaraan adalah kawan, asap kendaraan adalah pelukan.
Mengetuk kaca jendela dan menadah adalah olah tubuh kita sebenarnya.Yah,
beginilah kehidupan kami.
Disinilah
kami mengadu pertaruhan hidup, ya, aku dan kawan kawan paham hidup di sini
adalah replika surga. Karena kita disini juga replika adam. Karena adam mencoba
memakan khuldi kita semua harus
mencoba surga yang baru. Aku adalah aktor jalanan. Kalau lampu merah aku
berakting habis-habisan, atau tetrikal puisi atau kadang bermonolog ria. Aneh
ya sastra biasanya turun kejalan ketika ada penindasan saja tapi ini karena aku
juga butuh makan. Ku piker kelaparan dan menganggur adalah penindasan. Sebenarnya
kalau boleh milih ya gak turun ke jalan. Ada teman saya namanya dwiyono yang
kerap di sapa Kang Iyon, Kang Iyon ini adalah seniman jalanan yang sudah menjadi
sesepuh kalau menurut saya. Karena Kang Iyon sebenarnya bisa semua seni tapi
kalau dijalanan dia memilih mengabdi dalam seni tari. Dengan modal speaker kecil berwarna abu-abu miliknya
badannya meliuk-liuk demi lauk untuk
keluarga di rumah. Satu lagi seorang bocah belia yang biasa dipanggil Ucil dia adalah korban broken home bahasa kerennya. Bahasa
tidak kerennya pegatan. Dia memilih
ikut ibunya, ibu Ucil adalah seorang
yang bisa disebut pekerja malam. Ucil adalah seorang pemusik, ilmunya diperoleh
ketika dia pernah ikut kakeknya, Semua musik dia bisa. Tapi kakeknya memberi kentrung atau ukulele saja. Tidak ada
yang berani mengusik kami, karena tidak ada yag berani dengan Kang Iyon.
Bayang-
bayang kita takuti hanyalah dibawa ke suatu tempat entah tempat apa itu yang
jelas yang membawa kita adalah orang yang merasa lebih baik dari kita. Bajunya
seragam punya pentungan di celananya. Sabuknya tidak rapet celananya melorotan. Kita
dinaikkan ke mobil mobil terbuka dan dijadikan pameran di jalan-jalan perkotaan
lain.
Hari
itu terik mentari serasa mencambuk leher-leher sedangkan aku sendiri datang
kesiangan lebih dulu Kang Iyon dan Ucil. Bahkan Ucil udah rehatkan diri di
warung di ujung kiri lampu merah. Aku datang mendekat Ucil sedang menyiapkan
diri dengan memutar-mutar ujung gitarnya dan memetik gitarnya. Ku tepuk dia
dari belakang “Cil ngapain kamu kok udah
istirahat aja”. “Lelah bang, panas banget hari ini. Lah abang kok baru dateng”
saut Ucil sambil menaruh kopi hitamnya. “biasa lah cil, efek dua teguk semalam hehehe”
jawabku. Ucil terlihat tidak seceria biasanya. Aku tanya kepada dia “Cil kamu
kok dungaren toh, jam segini udah
lesu” . Ucil menjawab dengan menyadarkan
diri ke tembok “ aku kangen kakek bang, kakek yang memberiku kentrung ini ,
kata kakek iniloh aji-mu . Aji itu apa sebenarnya bang”. “Aji itu senjata cil” jawabku langsung
bediri setelah siap-siapku selesai. Ucil hanya manggut manggut dan langsung
ikut berdiri. Akhirnya kita memulai rutinitas, tak lupa aku menyapa Kang Iyon.
“ kamu ini jam segini baru keluar, pemuda macam apa kau ini”. “hehehe” aku menyembunyikan
muka dari Kang Iyon.
Tepat
jam 12.00 Kang Iyon tiba tiba langsung lari sangat kencang kalau orang jawa
bilangnya ini sifat kuping. Dia lari
dari simpangan kiri ke simpangan kanan untuk memanggil Ucil dan langsung lari
memanggilku. Aku ikut lari saja karena jika aku tanya gak mungkin Kang Iyon
jawab atau aku malah di tempeleng. Ucil ikut lari tapi mulutnya terus berkata
“ada apa kang, ada apa bang.” Berhentilah kita
di salah satu fly over. Kang Iyon bercerita “Gini tadi para petugas maha
benar itu udah mulai obrak-abrik lapak, disana pedagang pedagang udah gak boleh
ngelapak lagi”
“semakin hari
hidup ku serasa terancam kang, apa aku harus pergi dari jalanan kang?” Tanyaku
kepada Kang Iyon
(plak) Kang iyon tiba-tiba menampar mulutku yang belum
selesai bicara
“terus dimana
jiwamu akan kau ombang-ambingkan? Lantas kemana kekasihmu akan kau bawa lari ke
tujuanu jika jiwamu sendiri tidak kuat berdiri!” jawab Kang Iyon.
Kang
Iyon kelihatan marah besar kepadaku, setelah marah dia langsung pulang tanpa
sepatah kata pun. Tepat waktu sudah agak petang ternyata lari kita cukup jauh
sekali. Aku berjalan bersama Ucil untuk pulang. Karena beginilah rutinitas kita
setelah kena obrak. Jalan menjadi
lebih jauh lagi. Di perjalanan aku dan Ucil berhenti sebentar untuk sekedar
membeli minuman es rasa-rasa di jalan. Ucil
kelihatan sedih aku dekati dan bertanya “ Cil kamu kenapa lagi.”
“Ibu bang,ibu.”
Saut Ucil.
“Kenapa ibumu
cil”
“Aku khawatir
ibu, aku tiba tiba kepikiran ibu bang”
Aku
tau ibu Ucil itu kerjanya jadi wanita penghibur . Ucil juga sebenarnya udah tau
tapi aku merasa gak enak jika bilang disini. Kuberi dia minuman tadi dan aku
menyulut rokok sembari berkata “ Ubah pikiranmu cil, doakan ibumu selalu. Walau
kau orang jalanan setidaknya kau masih berTuhan. Kau boleh berdoa kapanpun
dimanapun,Walau ibumu kerjaannya begitu, mintalah kepada Tuhan agar ibumu tetap
di lindungi. Karena kerja ibumu,kerjamu, kerjaku tidak lebih hina dari
kemunafikan mereka yang maha benar member cap bahwa jalanan cukup jahat dan
kotor.” Aku mudah sekali memang memberi solusi karena aku hanya seonggok daging
dikuasai diksi.
Ucil
kelihatannya sedikit mengerti tentang penjelasanku.
Mendengar
dering telfon genggamku, aku mengangkatnya ternyata dari kekasihku. “bagaimana
bang kau baik baik saja bukan aku khawatir.”
“aku baik baik
saja dik, santai saja”
“apa kau yakin
bang? Firasatku tidak enak”
“sudahlah
salahkan firasaatmu jika itu mengkhawatirkan”
“iya bang,
sebenarnya aku mau cerita sesuatu”
Kekasihku
bukan orang jalanan, dia seorang buruh pabrik sepatu yang bekerja dengan
bayang-bayang PHK tiba-tiba tanpa pesangon. Sebab, pabrik itu sudah hampir
bangkrut. Ku rasa kita sama orang yang terancam pada pekerjaannya
masing-masing. Namun, bukankah setiap pekerjaan beresiko?
(wiuuw)
terdengar suara sirine. Aku mematikan
telepon dan aku menarik Ucil ke belakang tembok tempat kita bersandar. Ternyata
mobil bak berkursi lewat jalan ini, dengan isinya wanita wanita muda atau tua
parasnya cantik semua. Ucil menengok sedikit dan melihat ternyata di kursi
tersebut ada ibunya sedang duduk tertunduk.
Ucil
melempar minumannya yang diplastik itu ke kakiku dan berkata “ibuku bukan orang
baik, tapi jangan pamerkan ibuku di jalan-jalan dengan mobil itu. Aku kan malu
sama kawan-kawan” Dia langsung lari. Aku mengejarnya ternyata hasilnya nihil.
Dia meninggalkan kentrungnya disini.
Kang Iyon marah kepadaku dan Ucil kecewa padaku. Aku sangat bingung dan
kecewa pada diriku sendiri. Seonggok daging yang di kuasai diksi. Aku pulang
dengan penyesalan. Lants apa salah orang yang menghamba pada kata-kata
berkata-kata? Apa hamba dari kata-kata harus berhati-hati dengan kata-kata.
Lagipula kata Sukab pada Alinanya orang sibuk berkata-kata namun tidak ada yang
mau mendengarkan kata-kata. Lantas megapakau serius dalam berkata-kata.
Esok
hari aku kembali ke jalan, sengaja aku pergi pagi buta biar aku bisa cengkrama
dengan Kang Iyon sebelum dia make up. Ku lihat Kang Iyon duduk di warung
biasanya. “ada apa lagi kau kesini pemuda pecundang?” Kata Kang Iyon melihatku
dari cermin riasnya. Aku menunjukkan kentrung Ucil dan menjelaskan kejadian Ucil
kemarin. Kang Iyon santai menjawab “ yah gimana lagi le, ini sudah tanggungan
orang-orang kaya kita. Ibu Ucil juga gak mau jadi begituan” . “terus gimana
kang , Ucil ini” sembari ku ngambil rokok. “tunggu kabar gembira saja”. Jawab
Kang Iyon.
Tiba
tiba seorang lelaki paruh baya di samping kita langsung ngajak bersalaman.
“Saya Sukoncoro, saya ingin kalian ngisi di gedung pertunjukan di jalan no.45,
nanti yang hadir disana para pejabat tinggi. Karena saya lihat di jalanan ini
ada penari ternyata akang. Ada yang penyair atau sastrawan jalanan. Kalian buat
kolaborasi tapi ini kurang pemusiknya saja nanti saya carikan. Nanti disana
kalian akan menyuarakan hasil pemikiran kalian”
“Tidak usah pak,
saya punya pemusiknya si Ucil saja. Oke pak deal”
“silahkan datang
ke gedung itu untuk berproses dan
berlatih mulai besok, jangan ke jalanan ini. Langsung kesana ya!”
Aku bertanya
Kang Iyon “kang gimana kang?”
“Gimana apanya
kau ini gendeng ya”
“gendeng gimana kang?”
“aku tadi gak
denger percakapanmu orang aku sedang
gambar alis. Bukankah orang gambar alis tidak boleh diganggu”
“Oalah kang,
ituloh tawaran main di gedung pertunjukan itu yang sebelah sana depan para
pejabat”
“aku mau tapi
ini pasti ada apa-apanya karena kita gak kenal dan kamu grusak- grusuk setuju aja. iling le, kalau katanya Dewi Kunti
kepada anaknya Bima pada lakon Dewa Ruci kalo gak salah begini berpikir yakin tanpa kewaspadaan akan
mencelakakan dirimu. Jadi, sembarang
kalir itu harus di piker dulu. Jangan hanya bondo yakin-yakin saja. Kudu waspodo juga. Sekarng Mau gimana
lagi lah wong setuju harus di turuti apapun yang terjadi hadapi. Lelaki itu
yang di pegang omongannya.”
“Tapi ini kabar
gembira kan kang?” Tanyaku
“bisa iya juga
bisa tidak, panggil Ucil sekarang” Kang Iyon berdiri
Aku
datang ke rumah Ucil dengan jalan kaki. Ku ketuk pintunya ternyata sepi. Yah
mau gimana lagi, aku tanya tetangganya dia bilang keluar. Aku datang ketempat
biasanya Ucil berdiam diri yaitu di sebelah kali karena kali ini yang
mengingatkan Ucil dengan kakeknya yang memberi kentrung. Aku menjelaskan kepada
Ucil tentang kemarin. Ucil langsung melompat dan memelukku “ Apapun bang,
mudah-mudahan aku bisa membawa ibu pulang lagi dengan cara ini”
Akhirnya
kita berproses di gedung setiap hari selama 2 minggu pada gedung tersebut. Pada
malam sebelum kita tampil H-1 ,saat itu kita pulang melewati jalanan biasanya
kita mencari kehidupan. Di situ sekarang sepi, di perjalanan Kang Iyon terlihat
marah dan gebrak-gebrak suatu plakat di pinggir jalan. Aku dan Ucil melihatnya
ternyata ada tulisan ‘Dilarang keras memberi pengemis,pengamen di jalan ini’.
“Jancuk, gak
bisa dibiarkan . Kita di suruh main di sana agar jalanan ini sepi dari orang
seperti kita!” Kang Iyon naik pitam.
“Terus apa kita
harus tampil mengecewakan, kang?” Tambahku
Jangan, jangan
mengingkari proses kita. Di panggung kita wajib menyenangkan tapi turun
panggung beringas-beringas tidak apa apa” Kata Kang Iyon yang mencoba menghela nafas.
Esoknya sebelum
tampil pak Koncoro mendatangi kita dan berkata “sukses sukses sukses!” Kang
Iyon senyum dan berkata “makasih pak” Ucil menarikku menjauh ketika sedang ada
percakapan antara Kang Iyon dan pak koncoro. Ucil membisikiku “Bang itu orang
yang di mobil, yang ngangkut ibuku bang iya aku ingat betul. Dia kayaknya orang
penting soalnya dia duduk di sebelah kanan dari mobil kemarin”
Aku kaget, tapi
setelah ku pikir bahwa anak kecil itu ingatannya memang kuat.
“Udah Cil ingat
kata Kang Iyon tadi malam”
Akhirnya
tepat pukul tujuh kita naik panggung pertunjukan dengan totalitas. Tepuk tangan
bergemuruh sangat nyaring di telinga. Setelah turun panggung kita langsung
bergegas ganti kostum dan tak mau lagi menemui orang itu dan kita gak gila
bayaran dari mereka.
Sebelum
keluar gedung Kang Iyon nyuruh aku diam di kursi kayu tua sebelah jalan keluar
gedung pertunjukan dan dia pamit mau kencing. Aku dan Ucil bercengkrama sambil
sedikit mengumpat Tiba tiba pak Koncoro
lewat dengan seorang temannya. Dia tertawa sinis kepadaku. Aku langsung
berteriak “pak buat apa kau bawa kami kesini sebenarnya, aku ini orang jalanan
pak. Jika kau ingin kami berkembang tidak usah bawa kami kesini biarkan kami
disana saja”. Pak Koncoro menjawab “lihat mereka yang datang disini semua
mengapresiasimu dan tidak ada yang menyesal”
“Kalau begitu
kenapa anda datang, sedangkan anda sendiri membawa kami atas nama gangguan
bukan atas nama hiburan”
“banyak omong
kau”. Tiba tiba teman pak Koncoro memukulku hingga aku tersungkur di Tanah dan melemparku sejumlah uang. Aku tak berani berdiri karena nyaliku sangat
kecil. Aku melihat di belakang orang yang memukulku ada Kang Iyon yang
menikamnya dari belakang, orang itu robek dari perut belakang. Koncoro lari
karena takut akan di bunuh juga oleh Kang Iyon. Ternyata tiba-tiba dia jatuh ke
aspal ku lihat ternyata kakinya di slempang oleh Ucil. Ucil memukulkan
kentrungnya ke kepala pak Koncoro hingga
berdarah-darah dan kentrung Ucil hancur. Gagang kentrung yang sedikit lancip
pun di tusukkan ke perutnya. Kang Iyon hanya mengacungkan jempol dari jauh.
Akhirnya kami di
tangkap oleh pihak berwajib, kecuali Ucil karena dia masih kecil dan mau
ditimpalkan ke siapa hukumannya jika orang tuanya juga gak ada. “Cil, tumbuhlah
jadi seniman yang benar, dimanapun dan kapanpun. Jika prosesmu khianati
prosesmu. Aji-mu sudah kau gunakan.
Doakan ibumu, kakekmu dan kita, le”. Kata terakhir Kang Iyon ke Ucil. Ucil
menangis melihat aku dan Kang Iyon dengan tangan terborgol.
Aku menelpon
kekasihku
“Dik maaf abang
udah bukan orang baik lagi, jalanan memang keras kotor pula. Kau pernah
mengingatkanku terhadap pekerjaan kita harus siap menrima resiko. Aku sekarang
sudah menerima”
“adik akan jadi
pemaaf kapanpun bang, tidak ada kesalahan pada resiko.” jawab kekasihku.
Kang Iyon
menelpon istrinya dan berkata “ hari ini bapak gak pulang.” Istrinnya hanya
berkata “iya kang, tidak apa-apa”.
Sedang ucil
berteriak “jika naik mobil ini bisa ketemu ibu saya mau ikuuuut!”
Maka
akhirnya aku dan Kang Iyon keturutan naik mobil ini, tapi bukan orang jalanan
lagi. Kita orang tahanan. Memang sejak dari dulu seni dan kriminalitas adalah
kawan. Bergerak di seni lama-lama juga di Lapas. Naik mobil ini aku ingat Ucil
yang akan banyak sekali ingatan mencekam dari mobil ini.
Untuk
jalanan,seni, Nurlela,Ucil dan semuanya. Samono, pamit.
Februari
2018
30
Januari 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar