Jumat, 08 Februari 2019

Sua : AKHIR PERTUNJUKAN TERAKHIR


AKHIR PERTUNJUKAN TERAKHIR
Tanah surga memang indah dan sangat amat indah banyak pula keindahan memukau setiap mata yang mencoba meneggelamkan matanya pada tanah surga ini. Keindahan di tanah surga ini tidak ada habisnya kolam susu yang bisa seketika membanjiri semua orang disini. Tida topan dan yang irsau di tanah surga ini. Semua tentang keindahan dan estetika. Saking indahnya, penikmatnya juga tak ada tidurnya. Saking enaknya juga jalanannya bisa ngasih makan. Perempatannya juga bisa njajah bidadarinya. Termasuk sebuah jalanan yang sangat membuatku tertawan dalam kemenawanan. Jalan yang lurus bersimpang empat dan sudutnya ada warung kopi bersandar tembok tak di cat di biarkan abu-abu. Sebelahnya ada tembok-tembk di vandal dengan tulisan-tulisan tak bertuan dengan kata-kata ‘menolak lupa!’ dan di gambar seorang laki-laki yang dari Kota Batu katanya mati di Pesawat. Ada juga gambar wanita dari Sidoarjo yang gambarnya sangat khas dengan rambut keritingnya.

Salah Diksi : Sebongkah Dadu Di Atas Mesin ATM


Sebongkah dadu diatas mesin atm

Ku temui sebongkah dadu lusuh diatas mesin atm.
Ku ambil, aku mencoba berdebat peluang munculnya angka 6.
Temanku tanya ruang sampel nya.
Aku tak tahu, ku jawab saja "ini hidup kita, hidup hanya kocokan dadu."

"Kartuku ketinggalan" kata temanku
"Aku hilang semua bersama dompetnya sudah dua sore kemarin"  jawabku.
bias purnama malam ini, membias pada wajah pengemis sinis.
Dan pada matanya seolah berkata "kau punya apa memangnya kok kehilangan?"
Aku punya dadu.
"Hidup hanya kocokan dadu"
"Hidup dadu!"

Salah Diksi: Di matamu ada mesin waktu



Di matamu ada mesin waktu

Di matamu ada mesin waktu, detak-detak detiknya lentik menghanyutkan sukmaku.
Di matamu ada mesin waktu, waktu aku kemarau disana ada muara bertemumya dua air mata kita.
Di matamu ada mesin waktu, waktu siang hari terang-terang, tiba-tiba tenggelam jadi malam.
Di matamu ada mesin waktu, waktu aku tersesat dalam lorong tak berujung, dari sana kilau menuntunku.
Di matamu ada mesin waktu, waktu semua muncul di permukaan namun di matamu adalah sumur kering yang dalam.
Di matamu ada mesin waktu, aku ingin fana di matamu.
Dengan waktu bersamaan kau abadi dalam aku.*




*) Yang Fana Adalah Waktu – Sapardi Djoko Damono


                                                                                                                               
                                                                                                                                                                November, 2018



Salah Diksi : Kidung Ibu




*Bulan lintang
Awuk-awuk jenang abang
Nang kene nang kunu
Aku dolen padangono*

Sebuah rapalan rapalan kidung yang kadang-kadang beruntung
Kidung yang kadang-kadang buat sesal aku menanyakan keabsahannya.
Kidung yang kadang-kadang jadi hompimpa awal dari pelenyapan hampa.
Kidung yang kadang kadang jadi restu untuk permainan tak kenal waktu.

Diusapnya pula di kepalaku oleh purnama
Dan pada cakrawala dalam jemari ibuku.
Serta Jenang abang pemeluk bayang yang menjauh bak layang-layang.
 AKU pamit untuk mulai bermain.
Berlari.
Sembunyi.
Dan pulang kembali pulang.
Sebab kata ibuku sudah malam.

Salah Diksi: Nduk



 Nduk
Untuk anda tak bervokal i.

Mataku sempat kehilangan  tempat berlabuh.
Lalu matamu adalah dermaga untuk sekoci-sekoci yang tersesat itu.
Yang telah lama bergelayutan dalam mantera lautan.
Mencari petunjuk dewi kemaritiman.

Pada pipimu yang menggemaskan itu
Tiba-tiba memerah saat mataku mulai berlabuh pada matamu.
Fatamorgana pun terjadi.
Yang kering terlihat berair.
Dan yang pernah ada terlihat hilang begitu saja.

Alismu  yang tipis adalah awan tadah bias mentari saat tenggelam.
Dan malam muncul ketika rembulan di bola matamu menari
dan mengajak mataku berpelukan.

Pada bulu matamu yang lentik,
Ada rapunzel yang mencuci rambutnya  dari atas istana.
Dan ada aku yang bergelayut mesra.
Dan ketika bulu matamu jatuh.
Aku penyebabnya.
Aku yang jatuh pula.

Dan pada bibirmu lekas terlukis warna merah ditengah dan merah muda sekelilingnya.
Bak perbedaan permukaan air laut ketika pasang mulai terpasang.
Degradasi gincumu adalah tempatku bersemayam.

Dan tanya klisemu pun muncul.
"Bagus merah muda atau merah saja"
"Tidak ada warna seindah warnamu" jawabku
"Hentikan, aku bicara gincu!"
"Ya sudah bagaimana kalau merah maroon saja"
" itu kan bukan pilihan" kau pun bingung
"Ya,itu aku"



                                                                                                                Malang, 3 Januari 2019