*Bulan lintang
Awuk-awuk jenang abang
Nang kene nang kunu
Aku dolen padangono*
Sebuah rapalan rapalan kidung yang kadang-kadang
beruntung
Kidung yang kadang-kadang buat sesal aku
menanyakan keabsahannya.
Kidung yang kadang-kadang jadi hompimpa awal
dari pelenyapan hampa.
Kidung yang kadang kadang jadi restu untuk
permainan tak kenal waktu.
Diusapnya pula di kepalaku oleh purnama
Dan pada cakrawala dalam jemari ibuku.
Serta Jenang abang pemeluk bayang yang menjauh
bak layang-layang.
AKU pamit untuk mulai bermain.
Berlari.
Sembunyi.
Dan pulang kembali pulang.
Sebab kata ibuku sudah malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar