Selasa, 26 Mei 2020
Catan harian (to) : koma
Pada induk kalimat itu, kita masih berlindung. Merundungi segala macam persoalan. Lalu bersemayam pada huruf terakhir diantara sepur-sepur leksikal yang terbangun megah. Kita mencari anak kalimat yang 'klik'. Mengotak-atik semesta. Menyederhanakan sekelumit permasalahan non matematis di kepala. Lalu merumuskan satu kalimat saja. Semua definisi dibangun dengan dasawarsa yang cukup lama. Diatasnamakan energik dan romantik. Tiba-tiba ambruk.
Jemari senantiasa mengetik. Memproduksi suara ketikan nyaring di ruang kosong itu. Lalu dihirupnya dengan telinga dengan nafas panjang telinga. Membunyikan 'pluk' dalam gendang telinga. Koma hadir, kedinginan. Berharap disentuh seperti tombol-tombol lainnya. Koma tak pernah hadir dalam obrolan kita di ruang chat. Alternatifnya, kita lebih memilih mengirim pesan dua, tiga, empat, lima kali lagi. Sebab memperkerjakan koma tidak baik pada peremajaan topik obrolan. Di ruang chat, koma membuat kesan harus diteruskan dan dituntaskan sampai titik. Pada jemari yang 'digandoli', tanda baca apapun terasa tidak ada yang menarik. Lebih baik mengirim bolak-balik agar terkesan tidak 'mati'.
Kita harus sering berkabar secara 'habluminannas' lagi dan lagi. Bukankah manusia memang menyukai singkat dan sering dibanding panjang namun jarang? Koma tidak membuat sering. dia hanya membuat panjang. Dalam khasanah emotikon koma tak membuat apa-apa. Memang koma tidak pernah se-ekspresif titik. Titik bisa menghasilkan emotikon senyum, cium, sedih dan tawa. Koma adalah jeda, titik adalah akhir. Pada dasarnya Ketika sedang terjeda apakah manusia bisa menentukan ekpresinya? Tentu tidak.
Koma tidak estetis. Dia hanya memiliki keahlian dalam memberi ruang bernafas. Dia hadir pada suprasegmental bahasa (unsur pembangun bahasa). Dia akan memberikan penjedaan sedikit demi sedikit. Memudahkan manusia berbicara bernapas bercerita bergembira bersua bergumam berucap berujar berungkap. Lelah bukan tanpa koma? Cukup tergesah. Begitu rasanya tanpa jeda. Susah.
Koma tak lebih baik dari sakta. Sakta, berhenti sejenak tanpa bernapas. Manusia dibuatnya tidak bernapas pada masa pemberhentiannya. Susah juga. Semua yang berhenti sejenak atau selamanya atau sembarangan atau semaunya atau seenaknya atau sesenangnya atau sebahagianya atau sesuka hatinya atau sewindu. Tidak boleh bernafas! Jelas lelah. Banyak atau-nya. Sakta hadir dalam beberapa 'paceklik' saja. Sakta protektif, Koma posesif .
Koma hadir dalam peristiwa besar umat manusia. Tatkala Adam menemukan hawa pada jabal rahmah. Tentunya adam menggunakan kalimat menggunakan koma yang banyak.
"Hawa, aku telah menemukanmu. Aku telah berjalan ke sana, ke gunung, ke bukit, ke lembah, ke pantai. Ternyata, kau disini hawa.
aku lelah,letih, linu, haus, bingung. Sekarang aku sudah bahagia sudah menemukanmu.
Aku merindukanmu, hawa. Kau tentu percaya." Adam bercerita pada hawa selayaknya lelaki pada umumnya yang ingin selalu bercerita jika bertemu wanitanya. Dia menggunakan banyak koma guna menyebutkan apa yang dia rasakan.
"Oh begitu ceritanya.
Iyaa."
Jawab hawa.
**
"Saat sudah koma, kita mendekati titik kita. Segeralah membangun emotikon"
"Masih banyak obrolan belum tuntas!"
"Tuntaskan, segera"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar