Senin, 23 Maret 2020

catatan harian (to) : merdekalah kaum tanpa BDH!


           
“Kuliah bukan hanya di kelas saja”

Kalimat taek itu akan terdengar pada yang baru menjadi maba. Ketika harum-harumnya mahasiswa semester satu yang membayangkan kuliah hanya seperti di ftv yang ketabrak langsung jatuh cinta. Mereka yang masih berpikir kuliah akan se-meringis mbak-mbak dan mas-mas yang di banner promosi kampusnya. Mereka yang masih kuliah membawa binder penuh, bulpen lengkap dan laptop masih sehat tidak buat ngepes atau mbokep.
                Kalimat itu menyusup di kening-kening mereka. Menjadi sebuah paradigma bahwa ternyata ada tempat alternatif yang digunakan untuk berkuliah selain ruang kelas. Dogma-dogma itu dibawa oleh mbak-mbak mas-mas yang gemar ada di depan panggung. Memegang mic dan berseragam yang seragam. Mereka adalah para organisantoris. Mereka mengajak para muda-mudi kampus tersebut untuk masuk pada organisasinya. Menjadi budak-budak program kerja, menjadi alat nama baik organisasi.
                Sadar atau tidak, mereka adalah orang yang kalah terhadap dogma kating-katingnya. Mereka yang terjerumus lembah organisasi yang gelap penuh dengan bau-bau busuknya. Mereka yang ternyata punya sebuah visi, misal cari pacar anak organisasi yang bisa dipamiti untuk rapat. Cari eksistensi politis yang memperbaiki karir politiknya di kampus. Atau mereka yang sudah terlalu biasa sejak PAUD sudah ikut osis. Mereka kadang menggunakan kalimat yang cukup taek juga “ nek kadung nyemplung, mesisan renang.” Artinya kalau sudah masuk ya gak enak kalo tidak serius.
Ada yang beralasan masuk organisasi biar banyak teman. He tolong tanpa organisasi pun kalau gemar berkawan ya berkawan saja, asu. kalau memang gak bisa adaptasi ya tidak usah ikut-ikut organisasi. Padahal organisasi tidak menjamin kamu banyak teman. Justru yang terjadi semakin banyak musuh. Ada yang dari dalam ada yang disleding oleh organisasi lawannnya.
Ada yang beralasan ingin menambah wawasan. Ini alasan paling guoblok. Menambah wawasan yo tinggal google saja. Tenang. Tidak usah capek-capek rapat-rapat haha. Simple su urip ini. Wawasan apa yang ingin didapatkan dalam organisasi. Wawasan kebangsaan? Dadio ponakane brimob.  Wawasan manajemen konflik? Belajar soko wiranto!
Alasan paling mujarab adalah ingin mengembangkan diri. Mengembangkan diri tidak usah ikut organisasi. Nyemil baking soda. Adus lengo gas saja! Kembali lagi jika orangnya males malesan ikut organisasi Cuma ikut-ikutan atau orang jawa bilang “lala undi” mau organisasimu sehebat apapun yo tidak akan ada dampaknya. Disuruh rapat tidak datang alasannya berbagai macam. Disuruh pembagian sisa hasil usaha datang paling depan.
Sekarang ikut organisasi misal himaprodi toh pada nantinya akan jadi tukang gawe event saja. Padahal dari namanya himpunan mahasiswa program studi. Ya sebenarnya tujuannya ya pokok menghimpun dan meneng-menengan kaya koruptor di Indonesia. Ikut badan eksekutif mahasiswa dari nama sajsa kita harus tau bahwa tujuannya ya mengeksekusi. lapangan ya buat event-event saja. Ikut dewan perwakilan mahasiswa ya jadinya tukang sidang. Ikut lembaga pers ya cuma jadi tukang kritik tak solutif kayak fadli zon. Buat apa juga?
Semua bergantung pada individu masing-masing saja. Saya rasa mereka yang tidak masuk organisasi apa-apa adalah mereka yang benar-benar merdeka di kampus. Mereka yang masih berkawan dengan segala orang  lintas organisasi , tetap ngopi bareng, mabuk bareng. Mereka yang juga tidak peduli-peduli banget di kampus. Tidak mikir program kerja. Mereka terbebas dari dogma kating-katingya. Mereka yang bebas dari standar bahwa organisasi adalah tempat berproses. Mereka berproses di alam semesta.
                Pada akhirnya kalimat taek “bahwa kuliah tidak harus dalam kelas”. Memang benar. Kuliah tidak dalam kelas bahkan yo tidak kuliah. Sibuk ngajukan proposal. Kuliah di organisasi itu sah-sah saja. Asal dengan niatan yang jelas gitulo.. Ikut bem diniatkan ingin jadi presma. Ikut organisasi biar punya tempat tidur yaitu sekertariat. Kalau ga punya ya sudah tidak usah ikut.
Gak ada yang salah dari organisasi, asal niatnya genah. Tidak ikut-ikutan dan memiliki orientasi yang asik dan jelas. Jangan pakai alasan yang ga jelas.  Yang terpenting jangan fanatik dan goblok. Jika  dikritik baper.
Ada pernyataan kawan saya yang asik :
“jika masuk organisasi harus menyesal, jika menyesal pilihannya keluar atau dibenahi. ”
Selamat merdeka untuk yang tidak ikut, selamat kerja rodi, tanam paksa bagi yang ikut. Jangan lupa pakai masker biar busuk kita tidak tercium. Sekarang program kerjamu terserang corona.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar