Rabu, 25 Maret 2020

Catatan harian (to) : Wanitanya Aktivis


Terbesit dalam pikiran. Bagaimana rasanya menjadi wanitanya para aktivis. Mereka yang ditinggal memperjuangkan suatu hak. Hingga mereka 'terangin-anginkan'. Diam mendoakan baik-baik saja kekasihnya di medan perjuangan. Mereka yang diduakan oleh kepentingan banyak orang. Ditinggal rapat. Ditinggal aksi. Dipaksa merelakan raga kekasihnya untuk orang banyak.


Punya sepatu satu twipis terkena aspal. Punya jaket beraromakan matahari. Muka kecoklatan, kadang sedikit memar-memar. Celana robek-robek. Tapi kondisi tidak akan mempersoalkan terhadap cinta kekasih mereka. Bagi wanitanya lelaki itu tetap heroik. Dia rela memperjuangkan segala macam. Dengan konsekuensi dia tidak merawat dirinya dan kekasihnya.

Mungkin yang beruntung mendapat wanita yang paham dunia keaktivisan. Sedikit mengerti politik. Jika pulang pada peluknya, bisa berdua untuk mengumpati bersama kondisi tentang perlawanan. Menjelma teman diskusi yang asik. Kadang memberi ide taktik 'licik' memenangkan semua. Ada yang beruntung mendapat wanita yang baik,pendiam dan buta politik. Atas segala umpatan akan diredam. Dengan kalimat " ya sudah sabar." Dalam pertemuan  pembahasan non politis. Melupakan sejenak segala hiruk pikuk dunia. Membawakan sebotol anggur, untuk berdua. Atau bisa dibawa kekontrakan bebas lalu menyetel lagu keras-keras agar tidak terdengar kawan sebelah. Oke,  mantap mantap.

Hati yang ditinggal dalam kekosongan ketika memperjuangkan orang lain. Bisa saja menjadi sebuah celah  bagi kawan-kawan si aktivis. Karena notabenenya pacar aktivis pasti cantik dan molek. Tak mungkin jika kawan-kawannya juga tidak tertarik. Bayangkan saja ketika kamu menjadi aktivis .lalu teman seperlawanan menikung wanitamu sendiri, ketika kamu sibuk aksi. Ketika sibuk mengais-ngais perhatian penguasa. Pacarmu ternyata perhatiannya diminta orang lain.  Ketika sibuk aksi, kawanmu sibuk 'beraksi' dengan orang lain. Atau mungkin di sekertariat yang kosong karena semua sibuk aksi. 

Mungkin dengan sepik-sepik tipis "udah tenang, sama aku aja. Pacarmu sibuk gitulo. Kalau ada apa-apa bilang ke aku." kan ngguapleki yaa. Sibuk ngaktivis, ternyata hatinya diaktifkan orang lain. Ketika kembali pada peluknya ternyata sudah masa tenggang. Tinggal renggangnya saja. Menambah masa aktif, ternyata sudah tidak bisa. Karena sudah aktif dengan yang lain. Asu kan ya.

Memang benar ada hati wanita yang cemas, gelisah, dan dingin tiba-tiba, di balik seorang aktivis yang gagah. Ada doa panjang agar lelakinya baik-baik saja. Juga ada celah bagi kaum-kaum 'riting kiri' yang belok tidak tau arah. Ketika kawannya geram atas semua penindasan. Ternyata menjadi sebuah kesempatan masuk pada hati yang dirundung kecemasan dan kesepian. Berlagak menguatkan, ternyata melemahkan perjuangan. Demi kebahagian sendiri. Susah memang. Aktivis kuat, di baliknya ada wanita hebat sebagai penguat. Aktivis-aktivis ambyar dan mudah goyah bisa lahir karena tertikung kawan seperjuangan. 


Baik-baik untuk wanitanya aktivis.
Dukung bentuk perjuangan.
Jangan berjuang dengan orang lain.

Senin, 23 Maret 2020

catatan harian (to) : merdekalah kaum tanpa BDH!


           
“Kuliah bukan hanya di kelas saja”

Kalimat taek itu akan terdengar pada yang baru menjadi maba. Ketika harum-harumnya mahasiswa semester satu yang membayangkan kuliah hanya seperti di ftv yang ketabrak langsung jatuh cinta. Mereka yang masih berpikir kuliah akan se-meringis mbak-mbak dan mas-mas yang di banner promosi kampusnya. Mereka yang masih kuliah membawa binder penuh, bulpen lengkap dan laptop masih sehat tidak buat ngepes atau mbokep.
                Kalimat itu menyusup di kening-kening mereka. Menjadi sebuah paradigma bahwa ternyata ada tempat alternatif yang digunakan untuk berkuliah selain ruang kelas. Dogma-dogma itu dibawa oleh mbak-mbak mas-mas yang gemar ada di depan panggung. Memegang mic dan berseragam yang seragam. Mereka adalah para organisantoris. Mereka mengajak para muda-mudi kampus tersebut untuk masuk pada organisasinya. Menjadi budak-budak program kerja, menjadi alat nama baik organisasi.
                Sadar atau tidak, mereka adalah orang yang kalah terhadap dogma kating-katingnya. Mereka yang terjerumus lembah organisasi yang gelap penuh dengan bau-bau busuknya. Mereka yang ternyata punya sebuah visi, misal cari pacar anak organisasi yang bisa dipamiti untuk rapat. Cari eksistensi politis yang memperbaiki karir politiknya di kampus. Atau mereka yang sudah terlalu biasa sejak PAUD sudah ikut osis. Mereka kadang menggunakan kalimat yang cukup taek juga “ nek kadung nyemplung, mesisan renang.” Artinya kalau sudah masuk ya gak enak kalo tidak serius.
Ada yang beralasan masuk organisasi biar banyak teman. He tolong tanpa organisasi pun kalau gemar berkawan ya berkawan saja, asu. kalau memang gak bisa adaptasi ya tidak usah ikut-ikut organisasi. Padahal organisasi tidak menjamin kamu banyak teman. Justru yang terjadi semakin banyak musuh. Ada yang dari dalam ada yang disleding oleh organisasi lawannnya.
Ada yang beralasan ingin menambah wawasan. Ini alasan paling guoblok. Menambah wawasan yo tinggal google saja. Tenang. Tidak usah capek-capek rapat-rapat haha. Simple su urip ini. Wawasan apa yang ingin didapatkan dalam organisasi. Wawasan kebangsaan? Dadio ponakane brimob.  Wawasan manajemen konflik? Belajar soko wiranto!
Alasan paling mujarab adalah ingin mengembangkan diri. Mengembangkan diri tidak usah ikut organisasi. Nyemil baking soda. Adus lengo gas saja! Kembali lagi jika orangnya males malesan ikut organisasi Cuma ikut-ikutan atau orang jawa bilang “lala undi” mau organisasimu sehebat apapun yo tidak akan ada dampaknya. Disuruh rapat tidak datang alasannya berbagai macam. Disuruh pembagian sisa hasil usaha datang paling depan.
Sekarang ikut organisasi misal himaprodi toh pada nantinya akan jadi tukang gawe event saja. Padahal dari namanya himpunan mahasiswa program studi. Ya sebenarnya tujuannya ya pokok menghimpun dan meneng-menengan kaya koruptor di Indonesia. Ikut badan eksekutif mahasiswa dari nama sajsa kita harus tau bahwa tujuannya ya mengeksekusi. lapangan ya buat event-event saja. Ikut dewan perwakilan mahasiswa ya jadinya tukang sidang. Ikut lembaga pers ya cuma jadi tukang kritik tak solutif kayak fadli zon. Buat apa juga?
Semua bergantung pada individu masing-masing saja. Saya rasa mereka yang tidak masuk organisasi apa-apa adalah mereka yang benar-benar merdeka di kampus. Mereka yang masih berkawan dengan segala orang  lintas organisasi , tetap ngopi bareng, mabuk bareng. Mereka yang juga tidak peduli-peduli banget di kampus. Tidak mikir program kerja. Mereka terbebas dari dogma kating-katingya. Mereka yang bebas dari standar bahwa organisasi adalah tempat berproses. Mereka berproses di alam semesta.
                Pada akhirnya kalimat taek “bahwa kuliah tidak harus dalam kelas”. Memang benar. Kuliah tidak dalam kelas bahkan yo tidak kuliah. Sibuk ngajukan proposal. Kuliah di organisasi itu sah-sah saja. Asal dengan niatan yang jelas gitulo.. Ikut bem diniatkan ingin jadi presma. Ikut organisasi biar punya tempat tidur yaitu sekertariat. Kalau ga punya ya sudah tidak usah ikut.
Gak ada yang salah dari organisasi, asal niatnya genah. Tidak ikut-ikutan dan memiliki orientasi yang asik dan jelas. Jangan pakai alasan yang ga jelas.  Yang terpenting jangan fanatik dan goblok. Jika  dikritik baper.
Ada pernyataan kawan saya yang asik :
“jika masuk organisasi harus menyesal, jika menyesal pilihannya keluar atau dibenahi. ”
Selamat merdeka untuk yang tidak ikut, selamat kerja rodi, tanam paksa bagi yang ikut. Jangan lupa pakai masker biar busuk kita tidak tercium. Sekarang program kerjamu terserang corona.