Terbesit dalam pikiran. Bagaimana rasanya menjadi wanitanya para aktivis. Mereka yang ditinggal memperjuangkan suatu hak. Hingga mereka 'terangin-anginkan'. Diam mendoakan baik-baik saja kekasihnya di medan perjuangan. Mereka yang diduakan oleh kepentingan banyak orang. Ditinggal rapat. Ditinggal aksi. Dipaksa merelakan raga kekasihnya untuk orang banyak.
Punya sepatu satu twipis terkena aspal. Punya jaket beraromakan matahari. Muka kecoklatan, kadang sedikit memar-memar. Celana robek-robek. Tapi kondisi tidak akan mempersoalkan terhadap cinta kekasih mereka. Bagi wanitanya lelaki itu tetap heroik. Dia rela memperjuangkan segala macam. Dengan konsekuensi dia tidak merawat dirinya dan kekasihnya.
Mungkin yang beruntung mendapat wanita yang paham dunia keaktivisan. Sedikit mengerti politik. Jika pulang pada peluknya, bisa berdua untuk mengumpati bersama kondisi tentang perlawanan. Menjelma teman diskusi yang asik. Kadang memberi ide taktik 'licik' memenangkan semua. Ada yang beruntung mendapat wanita yang baik,pendiam dan buta politik. Atas segala umpatan akan diredam. Dengan kalimat " ya sudah sabar." Dalam pertemuan pembahasan non politis. Melupakan sejenak segala hiruk pikuk dunia. Membawakan sebotol anggur, untuk berdua. Atau bisa dibawa kekontrakan bebas lalu menyetel lagu keras-keras agar tidak terdengar kawan sebelah. Oke, mantap mantap.
Hati yang ditinggal dalam kekosongan ketika memperjuangkan orang lain. Bisa saja menjadi sebuah celah bagi kawan-kawan si aktivis. Karena notabenenya pacar aktivis pasti cantik dan molek. Tak mungkin jika kawan-kawannya juga tidak tertarik. Bayangkan saja ketika kamu menjadi aktivis .lalu teman seperlawanan menikung wanitamu sendiri, ketika kamu sibuk aksi. Ketika sibuk mengais-ngais perhatian penguasa. Pacarmu ternyata perhatiannya diminta orang lain. Ketika sibuk aksi, kawanmu sibuk 'beraksi' dengan orang lain. Atau mungkin di sekertariat yang kosong karena semua sibuk aksi.
Mungkin dengan sepik-sepik tipis "udah tenang, sama aku aja. Pacarmu sibuk gitulo. Kalau ada apa-apa bilang ke aku." kan ngguapleki yaa. Sibuk ngaktivis, ternyata hatinya diaktifkan orang lain. Ketika kembali pada peluknya ternyata sudah masa tenggang. Tinggal renggangnya saja. Menambah masa aktif, ternyata sudah tidak bisa. Karena sudah aktif dengan yang lain. Asu kan ya.
Memang benar ada hati wanita yang cemas, gelisah, dan dingin tiba-tiba, di balik seorang aktivis yang gagah. Ada doa panjang agar lelakinya baik-baik saja. Juga ada celah bagi kaum-kaum 'riting kiri' yang belok tidak tau arah. Ketika kawannya geram atas semua penindasan. Ternyata menjadi sebuah kesempatan masuk pada hati yang dirundung kecemasan dan kesepian. Berlagak menguatkan, ternyata melemahkan perjuangan. Demi kebahagian sendiri. Susah memang. Aktivis kuat, di baliknya ada wanita hebat sebagai penguat. Aktivis-aktivis ambyar dan mudah goyah bisa lahir karena tertikung kawan seperjuangan.
Baik-baik untuk wanitanya aktivis.
Dukung bentuk perjuangan.
Jangan berjuang dengan orang lain.
