Minggu, 10 November 2019

catatan harian (to) :Jatuh Cinta dengan Penyair, Bercintanya Tetap dengan yang Tajir





Kalimat yang menjadi judul sebenarnya berbunyi “jatuh cinta dengan penyair, menikahnya tetap dengan yang tajir.” Kalimat ini ditemukan seklibetan di beranda twitter. Kalimat ini cukup membuat sebuah cambukan dalam pkiran dan memunculkan kalimat reaksi di kepala yang kira-kira berbunyi “hangkrik kok bener.” Sengaja saya ubah sedikit, karena perkara menikah terlalu jauh.
Eyang Sapardi Djoko Damono pernah menuturkan kalau tidak salah begini “ berkat sastra, saya digila-gilai wanita.” Hal ini membangun sebuah optimistis kepada kita untuk tetap jatuh cinta dan bersastra. Tentu dengan catatan harus bisa seperti sapardi. Sastra dianggap sebagai jalan untuk sepak-sepik. Karena disepik dengan cara sastrawiyah sepertinya asik. Sepik sastrawiyah sepertinya akan lebih romantis. Missal diajak ke toko buku, nonton teater, dihadiahi buku, dibuatkan puisi dan diajak menikmati senja seraya dinyanyikan lagu banda neira lalu diajak ikut komunitas sastra. Terkadang pula dapat bonus penyair yang cukup berkompeten dalam dunia gambar. Ya, wajahmu digambarkan. Sepertinya asyik gitu dicintai dengan sastrawiyah. Memang benar, mungkin itulah yang dimaksud dengan mencintai dengan sederhana.
Ditambah lagi, ingin punya pacar kayak Dilan. Pemberani heroik dan tukang syair. Ingin diperlakukan se-istimewa milea. Dengan cara selalu ada pada waktu tertentu. Sebagai bukti bahwa Dilan pengangguran. Diajak muter-muter keliling kota sambil disepik. Namamu diabadikan dalam bukunya. Abadi dalam tulisannya. Ataukah dicintai seperti Annelis Mellema dalam film bumi manusia. Dicintai seorang yang giat dalam kepenulisan. Romantis, penyayang dan ahli sastra pula. Apakah itu merupakan bagaimana dicintai secara sastrawiyah? Sungguh asyik. Beruntunglah ekspektasi kita tentang lelaki ahli syair adalah Iqbal ramadhan.
Sayangnya, pada kenyataannya para penyair yang baru ranum-ranumnya itu terkadang tidak sesuai dengan ekpektasi kita. Terkadang ada yang jarang mandi berambut lusuh dan ciri yang paling familiar adalah mencoba menjadi lelaki yang digila-gilai wanita dengan cara mendekati banyak wanita. Sayangya lagi, mereka tidak akan dilirik sebagai seorang dilan dan minke. Sebab entah karena penampilannya kurang necis dandanannya kurang milenialis bahkan alasan terakhir dananya kurang mencukupi. Alasan terakhir ini yang menjadi alasan paling top gagalnya para penyair muda dalam bercinta.
Sekarang kalau perkara necis, mungkin wanita awalnya melihat penampilan agak kolot akan dianggap namanya juga penyair pasti punya style sendiri. Lalu untuk perkara keluasaan hati, toh ya jangan ditanyakan lagi sudah pasti memiliki hati yang lembut, penyabar dan penyayang. Lalu untuk perkara rupa, toh ya bisa diyakinkan bahwa cinta itu buta. Lah, yang terakhir ini yaitu perkara isi dompet. Sekarang kalo habis bahagia nonton pertunjukan teater yang bisaanya pulang malam lalu kelaparan, bagaimana? Apa harus performing puisi keras-keras agar perutnya keisi. Okelah cinta itu buta men. Tapi berkat buta tadi cinta akan meraba-raba hingga di saku belakang. Lalu si penyair tadi mengeluarkan dalih-dalih anti kemapanan yang sudah iya temukan. Agar si kekasih sabar menahan perut merintih.  Diberikan dalih-dalih bagaimana kita hidup dengan sederhana agar masuk surge duluan gitu?
Lantas jika kekasihnya minta dibelikan gincu, gimane? Muncullah sebuah puisi baru yang sudah pasti ciamik memuji bagaimana cantik kekasihnya. Ketika kekasihnya meminta gincu, jawabnya: sesungguhnya yang terindah bukan warna gincumu. Tetapi apa yang kau katakan agar aku bertahan mencintaimu. Mampus! Tidak punya gincu. Pucet! Lalu misalnya sang kekasih sedang berulang tahun berharap diberi sebuah surprise dengan kue tart dan lilin menyala. Tapi ternyata hanya diberi sepaket buku. Apa jadinya? Tidak bisa membuat instastory deh. Tetap saja, mungkin wanita akan luluh dengan kata-kata. Tapi mereka lulur dengan uang kita. Tetap, wanita butuhnya yang berduit bukan hanya yang bisa berduet baca puisi saja.
Dan untuk penyair-penyair yang sedang tertikung harta benda, saya turut berduka cita. Tetap semangat berkarya. Semoga lekas terkenal seperti pak sapardi, agar digila-gilai wanita. Jatuh cinta dengan wanita yang manggut-manggut saja sepertinya juga enak. Penting jangan jatuh cinta sesama penyair. Ribet! Nanti kelaparan bebarengan. Jangan lupa tetap ber-eksistensi, sekarang mertua mintanya mantu PNS. Sedangkan penyair yang tidak terkenal bisa apa?



4 komentar: