Kalimat yang menjadi judul
sebenarnya berbunyi “jatuh cinta dengan penyair, menikahnya tetap dengan yang
tajir.” Kalimat ini ditemukan seklibetan
di beranda twitter. Kalimat ini cukup membuat sebuah cambukan dalam pkiran dan
memunculkan kalimat reaksi di kepala yang kira-kira berbunyi “hangkrik kok bener.” Sengaja saya ubah
sedikit, karena perkara menikah terlalu jauh.
Eyang Sapardi Djoko Damono pernah
menuturkan kalau tidak salah begini “ berkat sastra, saya digila-gilai wanita.”
Hal ini membangun sebuah optimistis kepada kita untuk tetap jatuh cinta dan
bersastra. Tentu dengan catatan harus bisa
seperti sapardi. Sastra dianggap sebagai jalan untuk sepak-sepik. Karena disepik dengan cara sastrawiyah sepertinya asik. Sepik
sastrawiyah sepertinya akan lebih romantis. Missal diajak ke toko buku,
nonton teater, dihadiahi buku, dibuatkan puisi dan diajak menikmati senja
seraya dinyanyikan lagu banda neira lalu diajak ikut komunitas sastra. Terkadang
pula dapat bonus penyair yang cukup berkompeten dalam dunia gambar. Ya, wajahmu
digambarkan. Sepertinya asyik gitu dicintai dengan sastrawiyah. Memang benar,
mungkin itulah yang dimaksud dengan mencintai dengan sederhana.
Ditambah lagi, ingin punya pacar
kayak Dilan. Pemberani heroik dan tukang syair. Ingin diperlakukan se-istimewa
milea. Dengan cara selalu ada pada waktu tertentu. Sebagai bukti bahwa Dilan
pengangguran. Diajak muter-muter keliling kota sambil disepik. Namamu diabadikan
dalam bukunya. Abadi dalam tulisannya. Ataukah dicintai seperti Annelis Mellema
dalam film bumi manusia. Dicintai seorang yang giat dalam kepenulisan. Romantis,
penyayang dan ahli sastra pula. Apakah itu merupakan bagaimana dicintai secara
sastrawiyah? Sungguh asyik. Beruntunglah ekspektasi kita tentang lelaki ahli
syair adalah Iqbal ramadhan.
Sayangnya, pada kenyataannya para
penyair yang baru ranum-ranumnya itu terkadang tidak sesuai dengan ekpektasi
kita. Terkadang ada yang jarang mandi berambut lusuh dan ciri yang paling
familiar adalah mencoba menjadi lelaki yang digila-gilai wanita dengan cara
mendekati banyak wanita. Sayangya lagi, mereka tidak akan dilirik sebagai
seorang dilan dan minke. Sebab entah karena penampilannya kurang necis
dandanannya kurang milenialis bahkan alasan terakhir dananya kurang mencukupi. Alasan
terakhir ini yang menjadi alasan paling top gagalnya para penyair muda dalam
bercinta.
Sekarang kalau perkara necis,
mungkin wanita awalnya melihat penampilan agak kolot akan dianggap namanya juga
penyair pasti punya style sendiri. Lalu untuk perkara keluasaan hati, toh ya
jangan ditanyakan lagi sudah pasti memiliki hati yang lembut, penyabar dan
penyayang. Lalu untuk perkara rupa, toh ya bisa diyakinkan bahwa cinta itu
buta. Lah, yang terakhir ini yaitu perkara isi dompet. Sekarang kalo habis
bahagia nonton pertunjukan teater yang bisaanya pulang malam lalu kelaparan,
bagaimana? Apa harus performing puisi keras-keras
agar perutnya keisi. Okelah cinta itu buta men. Tapi berkat buta tadi cinta
akan meraba-raba hingga di saku belakang. Lalu si penyair tadi mengeluarkan
dalih-dalih anti kemapanan yang sudah iya temukan. Agar si kekasih sabar
menahan perut merintih. Diberikan dalih-dalih
bagaimana kita hidup dengan sederhana agar masuk surge duluan gitu?
Lantas jika kekasihnya minta
dibelikan gincu, gimane? Muncullah sebuah puisi baru yang sudah pasti ciamik
memuji bagaimana cantik kekasihnya. Ketika kekasihnya meminta gincu, jawabnya:
sesungguhnya yang terindah bukan warna gincumu. Tetapi apa yang kau katakan
agar aku bertahan mencintaimu. Mampus! Tidak punya gincu. Pucet! Lalu misalnya
sang kekasih sedang berulang tahun berharap diberi sebuah surprise dengan kue tart dan lilin menyala. Tapi ternyata hanya
diberi sepaket buku. Apa jadinya? Tidak bisa membuat instastory deh. Tetap saja,
mungkin wanita akan luluh dengan kata-kata. Tapi mereka lulur dengan uang kita.
Tetap, wanita butuhnya yang berduit bukan hanya yang bisa berduet baca puisi
saja.
Dan untuk penyair-penyair yang
sedang tertikung harta benda, saya turut berduka cita. Tetap semangat berkarya.
Semoga lekas terkenal seperti pak sapardi, agar digila-gilai wanita. Jatuh cinta
dengan wanita yang manggut-manggut saja sepertinya juga enak. Penting jangan
jatuh cinta sesama penyair. Ribet! Nanti kelaparan bebarengan. Jangan lupa
tetap ber-eksistensi, sekarang mertua mintanya mantu PNS. Sedangkan penyair
yang tidak terkenal bisa apa?
Semoga sabar menjadi tantangan dan motivasi terbaik bagi penyair yg sedang berjuang demi mendapatkan sebongkah berlian.
BalasHapusAmin
BalasHapusHehe jangan bersyukur berarti
BalasHapusBersyukurtok tanpa aksi juga buat apa?
Hapus