Lapor! Hari ini telah ditemukan
seonggok mayat di balkon salah satu rumah kontrakan. Kontrakan tersebut
kabarnya menjadi sekertariat dari salah satu organisasi kampus yang cukup
progresif. Kematian ini cukup mengenaskan. Mayatnya masi memakai BDH
organisasinya. Kabarnya tidak ada yang mengenal siapa yang mati itu. Sebab dia
sepertinya pendatang dan jarang ada di rumah kontrakan. Mohon segera diselidiki. Kita harus segera
menggelar taklimat media agar instansi kita medapat pujian dan dianggap gercep
untuk menangani kasus. Laporan selesai!
****
Berikut adalah
pesan yang diteruskan dari atasanku, terletak di dalam kota masuk barisan
ketiga. Jelas tidak yang pertama karena di atas sendiri sudah ada pesan yang
disematkan yaitu dari istriku. Isiriku menyuruh agar lekas pulang dari kantor.
Katanya dia sudah mempersiapkan makanan spesial untuk merayakan hari pernikahan
yang sudah menginjak 3 bulan usia perkawinan. Memang istriku gemar merayakan anniversary tapi tiap bulan. Terkadang
dia menyebutnya menstruversay.
Barisan kedua adalah grup keluarga yang setiap hari tak pernah sepi diisi oleh
om-om yang jayus. Sudah pasti bagaimana
ketidaklucuan dari om-om yang sedang bercanda. Anekdot-anekdot sampah, foto-foto
dengan editan-editan murahan. Foto yang di google dicari dengan kata kunci
“foto lucu dijamin ngakak”. Begitulah ketika orang tua-tua dipaksa untuk melek
teknologi secara otodidak.
Pada kolom
ketiga ternyata masuk sebuah perintah penyidikkan terhadap salah satu mayat
yang tidak diketahui kenapa dia mati dan aku disuruh membuka siapa yang
membunuh padahal aku sendiri tidak megenali siapa yang mati. Beginilah susahnya
menjadi Dokpol (Dokter Polisi). Aku adalah dokpol spesialisnya kebetulan
forensik. Aku sudah 4 tahun menjadi dokpol. Sejak aku sebelum menikah hingga
sekarang sduah menikah. Sial sekali nasibku. Sebelum memegang itunya
wanita secara halal, aku sudah memegangnya tapi dalam bentuk sudah meninggal.
Aku sudah mengotopsi banyak mayat. Mulai dari pembunuhan berencana, pembunuhan
tidak sengaja, hingga penembakan secara misterius. Tapi baru kali ini aku menghadapi katanya pembunuhan terhadap aktivis. Jelas
tugas ini menggangu perayaan menstruversary yang sudah dibuatkan. Padahal aku
ingin pulang dengan cepat lalu mandi air hangat.
Selepas mendapat
pesan, aku langsung melucur menuju tempat kejadian. Terlihat banyak orang sudah
terkumpul. Garis polisi sudah dipasang.
Semua sudah dilarang masuk ke rumah kontrakan.
Kabarnya mayat itu ditemukan waktu senja hari tadi. Aku langsung naik ke
balkon lantai 2. Terdengar sayup-sayup lagu indiefolk dari ritmenya aku
hafal betul. Aku melihat gawainya disebelah kanan mayat itu, teryata benar. Playlistnya
Fourtwnty, Banda Neiira, Payung Teduh dan beberapa lagu para aktivis seperti lagunya
Fajar Merah yang judulnya Kebenaran, Bunga dan Tembok. Beberapa lagu dari Efek
Rumah Kaca seperti Di Udara dan Sebelah Mata. Ada pula lagunya Sombanusa. Dan
yang paling sering diputar yaitu lagunya Marjinal judulnya Buruh Tani. Mungkin
itu lagu para aktivis sepenjuru negeri.
Lebih lagi pada
suatu kamar yang dijadikan perpustakaan sekertariat terdpat banyak buku tentang
ideologi, buku filsafat, dan banyak buku warna merah. Aku penasaran mengapa
para aktivis menyukai buku merah atau merah itu sebenarnya simbol berani. Atau
simbol darah yang menunjukkan dia akan mati secepatnya.
“terpapar kekiri-kirian?”
tanya kawanku dari luar.
“ tidak tahu”
“buktinya
bukunya merah? Komunisme pasti!”
“komunisme
apaan? Lha wong ini buku pengantar ternak lele. Saking saja covenya merah”
“ kau ini bodoh
mas, katanya dokter handal. Ini loh ada buku tentang Aidit, banyak juga buku tentang
pemikiran Gie, Tan Malaka, buku dari Pramoedya Ananta Toer dan banyak buku-buku
kiri yang lain”
“Mana ku tahu,
ku kira semua buku kan dari kiri. Apa kau pernah lihat dokter bacaannya gini?
Apa kau pernah lihat dokter membaca filsafat. Beda dengan kau yang lulusan
humaniora”
Kawanku bernama
Dion. Kawanku ini kebetulan lulusan dari kampus ternama. Dia dulu juga aktivis kampus.
Lebih tepatnya politisi kampus. Katanya dia pernah medemo rektorat. Hingga dia
dipukuli satpam hingga hampir dikeluarkan dari kampus. Dia seorang penyidik
yang terkadang bantu-bantu urusan forensik. Walaupun dia sebenarnya penyidik
untuk bagian kriminalistas seperti begal,maling, dan Bandar. Dia terkadang tak
segan-segan memukuli objeknya jika dia merasa dipersulit penyidikannya. Dia
kemanapun membawa pistol.
Hawa
dingin merasuk pada diri, kantuk menyerang. Aku tetap saja harus melakukan
tugasku ini mengurusi mayat yang aku pun juga tidak kenal. Aku dibayangi
tenggang waktu untuk segera taklimat media di depan publik. Aku melihat mayat
ini mulutnya keluar darah bercampur cairan hijau seperti asam lambung. sepertinya
ada tanda tanda kerusakan pada lambungnya. Kelihatannya juga ada yang robek di
bagian lambung. Begitulah kinerja seorang dokter harus pandai mengira-ngira.
Walau belum tentu kebenarnnya. Kesimpulanku bahwa mayat ini lambungnya robek.
“Lambungnya robek”
“ Pasti diracun seperti munir,
bukankah aktivis akan mati di tangan racun?”
“Sekarang bukan zamannya diracun,
sekarang zamannya tembak-menembak.. dor! Tergeletak dan tidak ada yang mengaku
membawa pistol. Lalu tidak ujung ketemu penembaknya dan akhirnya tutup kasus.
Klise bos”
“Ente kok menjelekkan instansimu sendiri! Ini sudah jelas diracun
buktinya ada kopi disebelahnya. Ini pasti
ulah politisi.”
“Iya ,politisi racun meracun,
polisi tembak menembak. Lagipula belum tentu kopi ini ada racunnya. Untuk
membuktikannya kita harus membawa ke laboratorium. Laboratorium bukanya hari
selasa sedangkan hari ini masih minggu.”
“Terlalu lama, di luar sudah banyak
wartawan yang siap membuat berita. Kasihan mereka lah! Gunakan ilmu duga
menduga yang diajarkan di dunia kedokteran”
“Dokter tidak akan berbohong, lah
wong bercanda saja tidak boleh.”
“Ayolah jika ini kau bilang
diracun, maka aka ada proyek besar untuk kita selidiki. Otomatis kita akan
dapat ceperan cukup buaaaanyak. Kalau
kita menang maka instansi kita akan menjadi baik.”
“Baiklah, beri waktu aku
semalaman.”
Mayat
sialan! Hidup menjadi pembangkang mati pun menyusahkan orang. Semalaman aku
megotopsi sendirian. Sedangkan Dion sibuk terlelap di salah satu ruangan. Aku
mebolak-balik mayat ini. Tidak ada bekas tusukan pula. Mata mulai mengantuk
rasanya ingin tidur di rumah saja bersama istriku. Tapi nyatanya mungkin malam
ini aku akan tertidur bersama mayat jelek ini. Aku menyandarkan tubuhku pada
tembok. Punggungku cukup Lelah. Aku menyeruput kopi yang ada di depanku.
Lama-kelamaan tak sadar aku pun terlelap.
Tidur Bersama mayat sudah biasa ku jalani, tapi sepertinya aku merasakan
ada yang aneh dengan mayat ni. Tak lama kemudian aku terbangun dan sadar bahwa
aku meminum kopi yang katanya bercaun. Kali ini aku tidak menggunakan ilmu
duga-menduga. Akhirnya aku berhasil
merasakan bagaimana dokter yang mendiagnosis sesuatu dengan membuktikannya.
Sekarang jika kopi ini tidak berbahaya lantas mengapa orang ini bisa mati?
Menjadi pertanyaan
cukup besar dalam benakku. Aku merasa kematian dia bukan perkara diracun oleh
para politisi atau lawan politik organisasinya saja. Sepertinya jika memang
diracun maka mulutnya akan sedikit berbusa. Namun,
dia tidak. Aku terus melihat gejala-gejala tubuhya. Hingga tepat tengah malam
aku menyimpulkan dia tidak mati diracun. Setelah aku coba mencari di gerigi
pencarian mesin telusur. Dia sepertinya terlu banyak minum kopi hingga asam
lambungnya naik. paling fatal ya ini, robek lambungnya. Sekarang kalau memang dia aktivis , aktivis
kan kerjaanya diskusi. Diskusi kadang paling enak sambal ngopi dan merokok.
Ditambah lagi untuk apa dia mengopi di kala senja dengan membaca buku dan mendengarkan lagu indiefolk.
Kalau tidak tergandrungi virus ngopi
kala senja. Sedangkan background gawainya pun foto senja yang cukup
estetik. Kematian cukup konyol! Sialan!
Aku mennngalkan istriku dan meilih tidur dengan mayat hanya untuk kematian
konyol seseorang sahabat indie yang overdosis kopi.
******
“Matinya kenapa?”
“ Overdosis kopi”
“ Kau bercanda. Publik tidak akan
ada yang percaya dengan hasil otopsi seperti itu”
“Memang kenyataanya begitu”
“ Sudah ilang saja ini percunan
terhdap aktivis. Tidak apa-apa dokter berbohng”
“Jangan, di instansi kita sudah
banyak kebohngan yang dibuat. Aku ingin menjadi yang jujur saja”
“Kau memang bebal ini proyek
besar nantinya.kita akan mengusut jaringan pmbunuhan aktivis. Apa kau tidak
ingin punya uang banyak. Jangan-jangan kau menyembunyikan faktanya. Buktinya
gelas kopinya kosong. Kau pasti membuangnya sebagai upaya perusakan barang
bukti.”
Dor!
Tiga peluru
menghunus jantungku. Aku mati.
*****
TAKLIMAT
MEDIA: AKTIVIS YANG LAMBUNGNYA HANCUR TERNYATA DIRACUN OLEH PIHAK YANG TIDAK
BERTANGUNG JAWAB. DOKTER POLISI JUGA TERTEMBAK. POLISI AKAN MELAKUKAN
PENYELIDIKAN ATAS KEJADIAN INI. MASYARAKAT PERCAYAKAN SEMUA PADA POLISI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar