Jumat, 25 Oktober 2019

Mayat Seorang Aktivis yang Lambungnya Hancur di Kala Senja



Lapor! Hari ini telah ditemukan seonggok mayat di balkon salah satu rumah kontrakan. Kontrakan tersebut kabarnya menjadi sekertariat dari salah satu organisasi kampus yang cukup progresif. Kematian ini cukup mengenaskan. Mayatnya masi memakai BDH organisasinya. Kabarnya tidak ada yang mengenal siapa yang mati itu. Sebab dia sepertinya pendatang dan jarang ada di rumah kontrakan.  Mohon segera diselidiki. Kita harus segera menggelar taklimat media agar instansi kita medapat pujian dan dianggap gercep untuk menangani kasus. Laporan selesai!
****


Berikut adalah pesan yang diteruskan dari atasanku, terletak di dalam kota masuk barisan ketiga. Jelas tidak yang pertama karena di atas sendiri sudah ada pesan yang disematkan yaitu dari istriku. Isiriku menyuruh agar lekas pulang dari kantor. Katanya dia sudah mempersiapkan makanan spesial untuk merayakan hari pernikahan yang sudah menginjak 3 bulan usia perkawinan. Memang istriku gemar merayakan anniversary tapi tiap bulan. Terkadang dia menyebutnya menstruversay. Barisan kedua adalah grup keluarga yang setiap hari tak pernah sepi diisi oleh om-om yang jayus.  Sudah pasti bagaimana ketidaklucuan dari om-om yang sedang bercanda. Anekdot-anekdot sampah, foto-foto dengan editan-editan murahan. Foto yang di google dicari dengan kata kunci “foto lucu dijamin ngakak”. Begitulah ketika orang tua-tua dipaksa untuk melek teknologi secara otodidak.
Pada kolom ketiga ternyata masuk sebuah perintah penyidikkan terhadap salah satu mayat yang tidak diketahui kenapa dia mati dan aku disuruh membuka siapa yang membunuh padahal aku sendiri tidak megenali siapa yang mati. Beginilah susahnya menjadi Dokpol (Dokter Polisi). Aku adalah dokpol spesialisnya kebetulan forensik. Aku sudah 4 tahun menjadi dokpol. Sejak aku sebelum menikah hingga sekarang sduah menikah. Sial sekali nasibku. Sebelum memegang itunya wanita secara halal, aku sudah memegangnya tapi dalam bentuk sudah meninggal. Aku sudah mengotopsi banyak mayat. Mulai dari pembunuhan berencana, pembunuhan tidak sengaja, hingga penembakan secara misterius.  Tapi baru kali ini aku menghadapi  katanya pembunuhan terhadap aktivis. Jelas tugas ini menggangu perayaan menstruversary yang sudah dibuatkan. Padahal aku ingin pulang dengan cepat lalu mandi air hangat.
Selepas mendapat pesan, aku langsung melucur menuju tempat kejadian. Terlihat banyak orang sudah terkumpul.  Garis polisi sudah dipasang. Semua sudah dilarang masuk ke rumah kontrakan.  Kabarnya mayat itu ditemukan waktu senja hari tadi. Aku langsung naik ke balkon lantai 2. Terdengar sayup-sayup lagu indiefolk dari ritmenya aku hafal betul. Aku melihat gawainya disebelah kanan mayat itu, teryata benar. Playlistnya Fourtwnty, Banda Neiira, Payung Teduh dan beberapa lagu para aktivis seperti lagunya Fajar Merah yang judulnya Kebenaran, Bunga dan Tembok. Beberapa lagu dari Efek Rumah Kaca seperti Di Udara dan Sebelah Mata. Ada pula lagunya Sombanusa. Dan yang paling sering diputar yaitu lagunya Marjinal judulnya Buruh Tani. Mungkin itu lagu para aktivis sepenjuru negeri.  
Lebih lagi pada suatu kamar yang dijadikan perpustakaan sekertariat terdpat banyak buku tentang ideologi, buku filsafat, dan banyak buku warna merah. Aku penasaran mengapa para aktivis menyukai buku merah atau merah itu sebenarnya simbol berani. Atau simbol darah yang menunjukkan dia akan mati secepatnya.
“terpapar kekiri-kirian?” tanya kawanku dari luar.
“ tidak tahu”
“buktinya bukunya merah? Komunisme pasti!”
“komunisme apaan? Lha wong ini buku pengantar ternak lele. Saking saja covenya merah”
“ kau ini bodoh mas, katanya dokter handal. Ini loh ada  buku tentang Aidit, banyak juga buku tentang pemikiran Gie, Tan Malaka, buku dari Pramoedya Ananta Toer dan banyak buku-buku kiri yang lain”
“Mana ku tahu, ku kira semua buku kan dari kiri. Apa kau pernah lihat dokter bacaannya gini? Apa kau pernah lihat dokter membaca filsafat. Beda dengan kau yang lulusan humaniora”
Kawanku bernama Dion. Kawanku ini kebetulan lulusan dari kampus ternama. Dia dulu juga aktivis kampus. Lebih tepatnya politisi kampus. Katanya dia pernah medemo rektorat. Hingga dia dipukuli satpam hingga hampir dikeluarkan dari kampus. Dia seorang penyidik yang terkadang bantu-bantu urusan forensik. Walaupun dia sebenarnya penyidik untuk bagian kriminalistas seperti begal,maling, dan Bandar. Dia terkadang tak segan-segan memukuli objeknya jika dia merasa dipersulit penyidikannya. Dia kemanapun membawa pistol.
                Hawa dingin merasuk pada diri, kantuk menyerang. Aku tetap saja harus melakukan tugasku ini mengurusi mayat yang aku pun juga tidak kenal. Aku dibayangi tenggang waktu untuk segera taklimat media di depan publik. Aku melihat mayat ini mulutnya keluar darah bercampur cairan hijau seperti asam lambung. sepertinya ada tanda tanda kerusakan pada lambungnya. Kelihatannya juga ada yang robek di bagian lambung. Begitulah kinerja seorang dokter harus pandai mengira-ngira. Walau belum tentu kebenarnnya. Kesimpulanku bahwa mayat  ini lambungnya robek.
“Lambungnya robek”
“ Pasti diracun seperti munir, bukankah aktivis akan mati di tangan racun?”
“Sekarang bukan zamannya diracun, sekarang zamannya tembak-menembak.. dor! Tergeletak dan tidak ada yang mengaku membawa pistol. Lalu tidak ujung ketemu penembaknya dan akhirnya tutup kasus. Klise bos”
Ente kok menjelekkan instansimu sendiri! Ini sudah jelas diracun buktinya ada kopi disebelahnya. Ini pasti  ulah politisi.”
“Iya ,politisi racun meracun, polisi tembak menembak. Lagipula belum tentu kopi ini ada racunnya. Untuk membuktikannya kita harus membawa ke laboratorium. Laboratorium bukanya hari selasa sedangkan hari ini masih minggu.”
“Terlalu lama, di luar sudah banyak wartawan yang siap membuat berita. Kasihan mereka lah! Gunakan ilmu duga menduga yang diajarkan di dunia kedokteran”
“Dokter tidak akan berbohong, lah wong bercanda saja tidak boleh.”
“Ayolah jika ini kau bilang diracun, maka aka ada proyek besar untuk kita selidiki. Otomatis kita akan dapat ceperan cukup buaaaanyak. Kalau kita menang maka instansi kita akan menjadi baik.”
“Baiklah, beri waktu aku semalaman.”
                Mayat sialan! Hidup menjadi pembangkang mati pun menyusahkan orang. Semalaman aku megotopsi sendirian. Sedangkan Dion sibuk terlelap di salah satu ruangan. Aku mebolak-balik mayat ini. Tidak ada bekas tusukan pula. Mata mulai mengantuk rasanya ingin tidur di rumah saja bersama istriku. Tapi nyatanya mungkin malam ini aku akan tertidur bersama mayat jelek ini. Aku menyandarkan tubuhku pada tembok. Punggungku cukup Lelah. Aku menyeruput kopi yang ada di depanku. Lama-kelamaan tak sadar aku pun terlelap.  Tidur Bersama mayat sudah biasa ku jalani, tapi sepertinya aku merasakan ada yang aneh dengan mayat ni. Tak lama kemudian aku terbangun dan sadar bahwa aku meminum kopi yang katanya bercaun. Kali ini aku tidak menggunakan ilmu duga-menduga.  Akhirnya aku berhasil merasakan bagaimana dokter yang mendiagnosis sesuatu dengan membuktikannya. Sekarang jika kopi ini tidak berbahaya lantas mengapa orang ini bisa mati?
Menjadi pertanyaan cukup besar dalam benakku. Aku merasa kematian dia bukan perkara diracun oleh para politisi atau lawan politik organisasinya saja. Sepertinya jika memang diracun maka mulutnya akan sedikit berbusa. Namun, dia tidak. Aku terus melihat gejala-gejala tubuhya. Hingga tepat tengah malam aku menyimpulkan dia tidak mati diracun. Setelah aku coba mencari di gerigi pencarian mesin telusur. Dia sepertinya terlu banyak minum kopi hingga asam lambungnya naik. paling fatal ya ini, robek lambungnya.  Sekarang kalau memang dia aktivis , aktivis kan kerjaanya diskusi. Diskusi kadang paling enak sambal ngopi dan merokok. Ditambah lagi untuk apa dia mengopi di kala senja  dengan membaca buku dan mendengarkan lagu indiefolk.  Kalau tidak tergandrungi virus ngopi kala senja. Sedangkan background gawainya pun foto senja yang cukup estetik.  Kematian cukup konyol! Sialan! Aku mennngalkan istriku dan meilih tidur dengan mayat hanya untuk kematian konyol seseorang sahabat indie yang overdosis kopi.

******
“Matinya kenapa?”
“ Overdosis kopi”
“ Kau bercanda. Publik tidak akan ada yang percaya dengan hasil otopsi seperti itu”
“Memang kenyataanya begitu”
“ Sudah ilang saja ini percunan terhdap aktivis. Tidak apa-apa dokter berbohng”
“Jangan, di instansi kita sudah banyak kebohngan yang dibuat. Aku ingin menjadi yang jujur saja”
“Kau memang bebal ini proyek besar nantinya.kita akan mengusut jaringan pmbunuhan aktivis. Apa kau tidak ingin punya uang banyak. Jangan-jangan kau menyembunyikan faktanya. Buktinya gelas kopinya kosong. Kau pasti membuangnya sebagai upaya perusakan barang bukti.”
Dor!
Tiga peluru menghunus jantungku. Aku mati.
                                                                                *****


TAKLIMAT MEDIA: AKTIVIS YANG LAMBUNGNYA HANCUR TERNYATA DIRACUN OLEH PIHAK YANG TIDAK BERTANGUNG JAWAB. DOKTER POLISI JUGA TERTEMBAK. POLISI AKAN MELAKUKAN PENYELIDIKAN ATAS KEJADIAN INI. MASYARAKAT PERCAYAKAN SEMUA PADA POLISI.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar