Jumat, 26 Juli 2019

Barista Yang Memecahkan Rembulan




Semenjak munculnya filosofi kopi, barista kopi melejit habis-habisan. Sebuah film yang menggambarkan bagaimana kesenangan seorang barista dengan segala tetek-bengek keasyikan dalam menggeluti dunia kopi. Diperankan oleh Chiko Jeriko yang notabennya orang yang sudah tampan. Sehingga barista memiliki sebuah image yang keren dan mbois. Siapa yang tak terkesima  ketika barista menggambar diatas kopinya yang disebut latte art. Wanita mana yang tidak terkesima terhadap seorang barista yang memiliki penampilan menarik dan memiliki keahlian yang ulung. Ditambah lagi menggunakan apron yang  menggantung pada leher untuk melindungi agar kopi tidak terkena baju. Pekerjaan yang lepas dan tidak pernah memakai seragam. Bekerja yang sesuai dengan passion seperti milenial pada umumnya.
hal itu yang merundungi kepalamu dua tahun lalu. Kau yang berasal dari lingkungan pesantren yang taat agama. Kau yang dulu bercita-cita sebagai seoarang abdi negara. Sekarang tiba-tiba membelokkan cita-citamu demi memiliki sebuah eksistensi dengan menjadi barista. Kini kau memilih jalan hidup menjadi seorang barista yang bertolak belakang dengan latar belakangmu. Kau dengan bangga menepuk dada dan mengaku seorang barista. Kau yang berfilosofi setiap meminum kopi. Kau yang senantiasa tidak mendukung pembuatan kopi instan karena menurutmu kopi instan adalah produk-produk kapitalisme yang tidak memperdulikan nasib para petani kopi.  Kau yang selalu memikirkan bahwa kopi berkontribusi dalam perkembangan negeri karena jika  meminum kopi  harus berdiskusi tentang negeri.
Mampus kau! Kini kau yang anti kapitalisme dan mendukung sebuah pembelaan terhadap petani. Sekarang kau memilih menjadi barista dan  menjadi budak kapitalisme. Kini hidupmu menderita bukan?  Nasibmu tergantung  pada tuangan air panas dari teko ini. Ideologi teraduk-aduk dalam kopi-kopi yang kau aduk  pada cangkir keramik itu sesuai jarum jam. Perihal makanmu besok itu pun berkat hedonisme para orang-orang di depanmu itu. Kau hanya bisa terduduk merenenung di balik mesin penggiling kopimu,  sedangkan mereka membayar uang-uang mereka meskipun kau patok harga kopimu semahal mungkin. Walaupun begitu apakah kau akan kaya? 
Mengapa kepala dipenuhi pemikiran seperti ini?
Kalau aku berpikiran seperti ini setiap malam apakah aku akan kenyang?
                                                                                **********
Aku adalah seorang barista yang bekerja pada sebuah kedai yang memiliki konsep minimalis di Malang. Tepatnya berada di Sudimoro. Kedaiku berwarna hitam dengan lukisan-lukisan kaligrafi italia. Kursi-kursi kayu seperti kedai kopi kekinian.   Aku bukan pemilik kedai ini, aku bekerja disini karena dibawa oleh kawanku yang dulu juga bekerja disini. Aku seorang perantauan dari Surabaya. Menetap di Malang sudah 2 Tahun ini. Demi mencari jati diri aku memilih merantau di kota orang. Awalnya aku menetap di Malang untuk  latihan intensif menjadi prajurit di daerah sekitar Lapangan Rampal. Aku kerap dipanggil dengan nama Sam Su oleh kawan-kawan. Mungkin, karena sam adalah panggilan akrab anak-anak Malang dan  SU mungkin karena aku berasal dari Surabaya. Atau mungkin su adalah kependekan dari asu  yang artinya anjing. Karena  Surabaya yang merupakan musuh bebuyutan dari kota Malang. Mungkin itu yang membuat aku di panggil se-istimewa itu.
Semenjak aku gagal dari pendaftaran menjadi abdi negara, aku menjadi jatuh cinta pada kota ini. Kota yang dingin, kota yang disebut swizterland van java. Kota yang katanya banyak penyuka sesama jenis,hal ini terbukti di dekat stasiun kota baru masih banyak mas-mas yang memakai rok mini.  bagiku hal itu menunjukkan bahwa Malang adalah kota cinta. Bahkan cintanya tak terikat oleh jenis kelamin. Kota yang terkenal dengan 40 anggota DPR-nya yang korupsi berjamaah . Tapi bagiku itu salah perorangannya bukan salah kotanya. Malang yang terkenal sebagai kota Pendidikan dan mahasiswi-mahasiswi yang cantik-cantik, mulai dari ukhti-ukhti di UIN hingga mbak-mbak yang berbicara lo gue, which is dsb. Yaitu mbak-mbak Universitas Brawijaya. Bahkan penduduk aslinya juga cantik-cantik sebab secara letak geografis malang diapit Gunung-gunung. Kalau orang Malang biasanya menyebutnya dengan kodew ngalam. Karena malang sangat dingin, untuk memecahkan kedinginannya Malang aku setiap hari mengopi. Menemukan warung kopi di Malang cukup mudah mungkin Malang bisa mendapat predikata city of cafĂ©.  Disinilah cikal bakal aku menjadi barista, karena kegagalanku aku pantang pulang. Aku sudah jatuh cinta pada kota ini.
Dua tahun merantau disini ternyata membuat hidupku hanya begini-begini saja. Menjadi seorang barista ternyata tidak sesuai dengan ekspektasiku sebagai sudut pandang peminum kopi. Ternyata kedai ini tak bisa seramai kedai yang lain. Suatu ketika aku melihat wanita cantik mengopi di kedaiku. Dia selalu datang dengan wajah lesunya membawa dua buah buku yang ku lihat beli di pasar buku Wilis. Kedai itu kebetulan sepi. Dia yang senantiasa memakai jilbab warna ungu. Dia selalu duduk disebelah kiri dari bar tempatku membuat kopi. Tempat itu tempat favoritnya karena disitu berada colokan untuk laptopnya yang tidak bisa dipakai ketika tidak diisi baterainya.
 Dia selalu memesan kopi tubruk dampit, bagi ku ini gila. Seorang wanita selugu dia. Doyannya dengan kopi yang pahit. Kopi tubruk dampit juga kopi favroitku. Sialnya aku jatuh cinta sebab hal sesederhana itu. Aku selalu suka ketika dia memanggilku dan bertanya apa password Wifi. Kita yang tidak saling kenal, namun aku jatuh cinta sendirian. Sebab Dia mengembalikan semangatku untuk terus menjadi barista. Hampir setiap malam terjadi. Aku berharap dia akan memesan es kopi, sebab di gelas es kopi aku akan menulis Namanya. Setidaknya jika aku tau namanya aku akan sebut namanya dalam doaku. Aku selalu berharap agar wanita ini segera memesan es kopi.  
Memang Tuhan sesuai dengan perasaan hambanya. Pada suatu malam di tempat biasanya dia bersemayam, ada sebuah makalah tertinggal dengan atas nama Nadhifa Kurniawati. Ternyata wanita yang ku kagumi bernama  Nadhifa. Akhirnya aku menemukan siapa Namanya. Esoknya, dia datang dengan wajah sumringah. Pada hari ini, apa yang ku gambar dalam keningku terwujud juga. Dia dengan sumringah memesan sebuah es kopi. Aku sigap menebak Namanya dengan pede aku berkata “ es kopi atas nama mbak Nadhifah Kurniawati  ya?”
“bukan mas, atas nama Nia saja ya? Tapi masnya kok tahu nama lengkap saya”
“kemarin saya menemukan makalah ini mbak,ini bukannya makalahnya mbak?”
“oh iya mas ini, revisian saya. Terimakasih ya mas.”
Tak lama datanglah seorang lelaki yang duduk di depan, Nadhifah. Duduk berhadapan dengan es kopinya.  Lalu Nadhifa berkata pada lelaki di depannya
“ kopi tubruk dampit disini enak, kamu pesan gih. Aku sering ngopi disini tapi tidak denganmu. Kau sibuk menjadi aktivis kampus”
Lelaki tersebut tidak lebih keren dari diriku. Jelas tidak se-mbois aku.

                                                                                                *****

Pada malam jahanam itu, mampus! kau rasakan kopi lebih pait dari biasanya. Air dalam teko lebih panas dari biasanya. kau yang menemukan semangat untuk bangkit. Kau yang tiba-tiba kehilangan semangatmu. kau yang membuat kopi sesedap itu tidak mendapat gelar sebagai pembuat kopi yang enak. Apakah memang seharusnya seorang barista tidak dikenang Namanya? Manusia terkadang mengakui bahwa sebuah karya itu bagus. Tapi tidak mengakui siapa penciptanya. Kamu yang mengagumi sesosok Nadhifa dan kau pula yang lupakan  siapa pencipta Nadhifah.  Rasa ini melebur diantara biji-biji kopi yang masuk grinder. Lebur, remuk dan tak sengaja kau seduh sendiri. Sialnya itu kau sajikan ke orang-orang di di depanmu. Sehingga akhri-akhir ini kopi lebih pahit dari sebelumnya.
Adakah kepahitan yang lebih pahit dari realita bahwa manusia mencintai kebendaan  saja? Dan barista yang tak disebut namanya?
                                                                ****
Semenjak malam itu, aku kembali lesu. Menjadi barista memang tidak membuatku memiliiki kebanggaan apa-apa. Aku muak dengan pekerjaan ini. Aku memutuskan untuk pergi ke daerah yang lebih tinggi yaitu di Cangar Batu.masa bodoh dengan PHK atau aku tidak di gaji oleh pemilik kedai.  Menyisir jalan-jalan macet di alun-alun Batu. Sebelum pergi ke Cangar aku menyempatkan diri masuk ke salah satu supermarket untuk membeli sebotol kopi instan. Dalam supermarket aku melihat tulisan ‘memecahkan berarti membeli’. Aku bertanya pada kasir supermarket disini.  Katanya memang benar memecahkan berarti membeli. Aku yang sudah tidak punya uang lagi. Ini tangal tua dan aku memutuskan untuk tidak bekerja pula. Aku membuka pintu kulkas dengan hati-hati aku takut memecahkan sesuatu disini.
Aku keluar supermarket, aku pergi ke Cangar dengan motor Honda astrea milikku. Sesampainya di Cangar aku melihat rembulan yang sedang ranum-ranumya. bagai buah manga yang siap untuk dipetik. Aku memang sudah jatuh cinta pada kota ini, aku bertambah cinta semejak melihat Nadhifah. Oh Nadhifah, seandainya kau tahu berkatmu aku semakin mencintai kotamu. Tapi berkatmu pula aku patah hati atas keputusan Tuhan yang tidak adil.  Sayangnya semua terjadi di Kotamu. Salahkan Tuhan jika semua ini terjadi di kotamu Nad! Nasib di tanah ini tidakbegitu jelas, jatuh cinta dengan warganya juga kandas. Ah! Begitulah filosofi kopiku malam ini. Aku benci filosofis dalam kopi. Aku muak dengan semua ini!
Oh tidak.  aku tidak sengaja melemparkan botol kopi ini ke rembulan. Ku kira rembulan akan baik-baik saja. Ternyata rembulan tak sekuat punggungku selama ini. Memang si Pencipta rembulan adalah Yang Maha Tidak sempurna. Jika memang Dia Maha Sempurna seharusnya nasibku tak se-menderita ini. Sial aku justru memikirkan pencipta rembulan Aku tak sadar rembulan itu pecah. Rembulan pecah berkeping-keping, kepingan-kepingan tajam itu terlihat berserakan di jalanan cangar dan beberapa ada yang menancap di bukit-bukit. Tapi aku juga tidak meraa bersalah tentang kejadian ini. Jika tidak ada rembulan, maka tidak ada juga yang ngopi lagi, tidak ada shift malam.  Malang akan selalu pagi, pagi adalah sebuah tempat yang mantap untuk seorang barista terlelap. Rembulan tak ada, fajar sudah bangkit. Aku memutuskan untuk berendam di wisata air panas Pacet sebelum aku pulang dan terlelap. Hidup teryata bisa sangat tenang seperti ini. Tapi uang siapa yang ku gunakan untuk membeli rembulan yang tak sengaja ku pecahkan ini. Sesuai peraturan awal memcahkan berarti membeli. Tapi ku rasa Tuhan tidak se-materialistis itu. Katanya dia maha segalanya, seharusnya buat lagi dong.
Matahari terbit, aku memutuskan untuk turun ke kota. Jalanan batu cukup lenggang, tidak terlihat aktivitas manusia yang akan bekerja.  Di perjalanan aku melihat fotoku terpampang di tembok-tembok kota. Semua radio-radio menyebut namaku. Pengeras suara masjid menyebut namaku. Ku kira aku sudah mati, karna namaku disebut di pengeras suara masjid atau aku di baptis menjadi Tuhan karena aku berhasil memecahkan rembulan. Ada yang melihatku dan dia berteriak
“Aku bertemu pemecah rembulan”
“ iya, Aku pemecah rembulan. Ada apa? Apa kau ingin menjadi hambaku?”
Tiba-tiba semua mengejarku. aku menaiki motorku dengan kencang. Aku melihat banyak sekali mobil bertabrakan. Peluru-peluru salah sasaran. Banyak darah di jalan-jalan hingga banyak mayat-mayat korban kecelakaan di depan Balaikota Among Tani. Aku pergi Alun-Alun Batu hendak bersembunyi diantar pedagang-pedagang yang berjualan cukup mahal itu. Ternyata bianglala alun-alun batu sudah dirobohkan dan siap sebagai tempat pemanggangan tubuhku. Aku yang ketakutan tersebut melarikan diri ke daerah Malang kota. Aku akan bersembunyi di kedai kopiku. Berlindung di balik bar atau aku akan tidur di kontrakan kumuhku.
Memasuki daerah jalan soekarno hatta ternyata macet total. Aku biasa saja karena ini sudah rutinitas warga Malang untuk macet-macetan. Terdengar percakapan dua mahasiswa dengan jaket Universitas Brawijaya.
“hari ini penyebab macetnya beda”
“maksudnya apa?”
“ di depan UB gerbang belakang semua polisi berjaga-jaga”
“bukankah itu sudah biasa, mereka kan cari ceperan?
“ polisi berjaga untuk sebuah tempat yang katanya pembakaran untuk pemecah rembulan di Batu”
                Mendengar percakapan mereka, aku kaget. Ternyata di Malang kota. Aku hendak ditangkap juga. Aku memarkir motorku. Lalu mengendap-endap turun menyisir sungai di bawah jembatan jalan soekarno hatta. Aku menyisir pingiran sungai. Aku optimis tidak ada yang melhatku, sebab orang-orang kota tidak akan memperdulikan hal-hal yang bukan urusannya. Kota terlalu apatis. Malang ternyata sudah bukan kota cinta lagi. Itupun gara-gara aku.  Aku bersandar di bawah jembatan belakang Polinema. Jembatan yag biasa digunakan warga Malang untuk menghindari kemacetan di jalan soekarno hatta. Aku istirahat disitu dan bersandar sejenak.
                                                                                                ****
Sam, Kau sudah berhasil memecahkan rembulan. Kau sudah bisa tidur di siang harimu. Malang sudah tidak ada malam lagi. Kau juga berhasil menghindari realitamu menjadi barista. Kau sudah tidak wajib melayani para-para hedonis di kedaimu. Sam, mungkin kau akan cocok hidup di desa. Lalu bercocok tanam menjadi petani kopi. Hidup di desa, lalu ngopi ya tinggal ngopi. Tidak perlu filosofi-filosofi lagi. Disana hidupmu akan tenang. Tapi sam, jika kau kembali ke Surabaya dan menghilang disana. Kotamu cukup metropolitan dan tidak ada petani kopi. Jika kau pergi ke Dampit, Dampit ini kan termasuk Malang juga. Kau akan dikenali disana. Bukankah kau ingat daerah penghasil kopi di Pasuruan yaitu Ledug Prigen. Disana terkenal kopi ledug yang rasanya mirip dengan kopi gayo. Ledug pun dekat dengan tretes. Tempat prostitusi yang terenal di Pasuruan. Malammu akan terasa seperti surga disana. Tapi  gapakah disana masih ada malam? Aku membunuh malam, aku membunuh penghasilan para pelacur juga. Membunuh peghasilan tukang nasi goreng juga?
Aku membunuh banyak orang?
                                                ****

“kau seorang barista, kau pasti masuk surga karena banyak kesenangan yang kau buat. Kau orang yang baik. Kau menyenangkan orang-orang. Kau memudahkan orang-orang. Bukankah ibadah yang paling tinggi adalah membahagiakan orang lain?”
“ tapi menjadi orang baik tidak membuatku kaya?”
                “ memang orang baik akan miskin, bukankah nabimu juga dari golongan orang miskin?  Tapi tidak ada yang mati kelaparan.  Itu karena mereka diasuh oleh Tuhan yang Maha Kaya.”
“kau betul juga tapi kau siapa?”
Tiba-tiba orang itu hilang. Aku kembali tersadar.
                Jadi aku ini orang yang beribadah cukup banyak, aku adalah orang baik. Aku orang yang akan masuk surga pasti Bersama para nabi. Daripada aku berangkat ke Ledug dan menikmati surga di tretes aku akan pergi ke surga sebenarnya saja. Aku mengambil apron di tasku. Lalu apron ku pasang dalam tubuhku agar Tuhan mengetahui aku adalah barista. Setelah apron itu ku pasang. Aku melompat ke dalam sungai tersebut. 
Oh Malang, Nadhifah dan kopi selamat tinggal.
                                                                                                ******
“barista itu akhirnya masuk surga, dia minta dibuatkan kopi oleh Tuhan, tapi di surga tidak ada air hangat. Barista itu disuruh ke neraka sebentar”
“lalu apa yang dia lakukan di neraka yah?”
“lalu Tuhan berkata pdannya nak?”
“apa yang dikata Tuhan padanya yah?
“mengapa kau bangga menjadi barista, bukankah di depanmu banyak kebencian. Kopimu menyerap kelicikan-kelicikan dunia. Kau tidak ingat bahwa Munir putra Batu sendiri dibunuh diatas kopi. Banyak kelicikan yang dibuat diatas kopi. Kau bilang aku tidak adil padamu. Sebenarnya kalua  kau sabar kedai kopi satu sudimoro akan jadi milkmu. Ini Aku punya rencana Untukmu. Kau menganggap aku tidak sempurna padahal hidupmu sudah Ku buat sempuna itu. Tapi kau sendiri bagaimana? Kau lupa bahwa barista itu harusnya menghargai prosesnya. Kau ingin sesuatu dariKu dengan instan? Beginikah barista yang katanya anti kopi instan?”
“lalu apa kata barista itu yah?”
“ neraka tidak sehangat kedai kopi ketika akhir bulan.”
“ sebenarnya siapakah barista itu”
“dia adalah lelaki yang mencintai Nadhifah, ibumu itu.”
“sekarang aku takut untukmencintai diam-diam yah!”