Sabtu, 24 Agustus 2019

Dari Indonesia Maya Untuk Indonesia Raya


Pada era digital seperti ini, Kita  bebas berpendapat dengan sebebas-bebasnya di dunia maya. Karena  dunia maya merupakan dunia rekaan yang sangat berbeda dengan dunia nyata kita. Kita bebas berkomunikasi dengan siapapun. Kita bebas mengakses apapun. Kita bebas melakukan apapun. Dapat  diartikan bahwa dunia maya adalah dunia kebebasan yang tidak akan kita temui pada dunia nyata.
Salah satu kebebasan yang sangat disenangi adalah kebebasan dalam mengunggah apapun. Salah satunya adalah berita. Di dunia maya semua orang berhak menulis berita, berhak mengabarkan sesuatu pada khalayak di muka bumi yang saling berjejaring satu sama lain. Di sisi lain kita juga bebas membaca dan menerima hingga memercayai sebuah kabar yang disebarkan oleh orang lain. Terkadang kita tidak tahu siapa penulis berita tersebut. Tiba-tiba saja berita itu muncul di beranda media sosial kita. Maka dari itu, pada dunia maya mudah sekali kita medapat sebuah informasi yang belum diketahui tingkat kebenarnnya atau kabar kabur. Bahkan yang lebih parah lagi adalah berita bohong biasa disebut hoax.
Berita bohong atau hoax adalah musuh kita sedari dulu.  Kita ingat sebuah politik devide et impera  yang diterapkan pada masa kolonial oleh bangsa eropa. Devide et impera  atau politik adu domba digunakan untuk mengadu domba warga Indonesia yang jelas melaui berita bohong yang mereka buat. Hingga menyebabkan  adanya perang antar saudara di bumi pertiwi.  Hal ini mirip seperti yang terjadi dengan masa kini. Ada oknum yang sengaja mengadu domba kita melalui berita bohong di dunia maya. Dikarenakan hal itu, kita terkadang melihat orang yang saling mencaci-maki satu sama lain di platform media  sosial kita. Padahal sama-sama sebagai warga indonesia, mereka bertengkar karena dipicu oleh berita bohong atau hoax. Hoaks adalah penyebab ketidakrukunan Indonesia di dunia maya. Perpecahan memanglah yang diharapkan oleh ‘pengadu domba’. Sehingga dengan adanya perpecahan akan digunakan untuk kepentingan tertentu.
Jika dulu para penjajah menggunakan berita bohong untuk mengadu domba bangsa kita dengan mudah dapat dipercayai. Karena pada masa itu orang-orang Indonesia memang kurang dalam Pendidikan . sekarang zaman sudah berubah, pengguna media sosial pun adalah gologan orang yang berpendidikan. Lantas bagaimana bisa, kita masih dapat diadu domba dengan berita bohong atau dengan isu-isu murahan yang dipelntir sedimikian rupa untuk memecahkan persatuan di Indonesia. Sebuah kutipan dalam film bumi manusia yaitu “seorang yang terpelajar seharusnya sudah adil sejak dalam pikiran.” Kutipan tersebut dapat mengingatkan kita sebagai pengguna media sosial yang mayoritas  kaum Pendidikan, seharusnya tidak mudah menghakimi, mengadili sesuatu. Sehingga kita harus mengetahui sebuah faktanya sebelum kita mengadili sesuatu.
Maka dari itu kita harus pandai melakukan filterisasi terhadap sebuah kabar yang diunggah di dunia maya. Kalau bisa kita juga ikut melakukan riset,lalu membagikan apa yang sebenarnya sebagai upaya validasi berita. Mari menjadi warganet yang cerdas. Tidak mudah menghakimi,tidak mudah menyalahkan dan tidak mudah terprovokasi. Untuk kerukunan Indonesia maya. Kerukunan Indonesia maya akan berdampak kepada kerukunan Indonesia raya. Kerukunan Indonesia raya adalah kunci dalam membangun Indonesia kedepannya. Melalui sebuah kerukunan kita akan mencapai “SDM Unggul, Indonesia maju”  istilah yang telah digaungkan pada HUT KE-74 Indonesia ini. Sekarang kalau tidak rukun bagaimana bisa unggul? justru yang terjadi adalah saling menjatuhkan untuk mengungguli.
Mari kita  merdeka di Indonesia Maya. Merdeka dari berita bohong dan merdeka dari perpecahan di dunia maya. Sehingga kita kembali rukun untuk membangun Indonesia dengan presiden yang baru saja terpilih. Sebab sehebat apapun presidennya kalau rakyatnya tidak rukun bagaimana bisa maju? Bukankah struktur pemerintahan yang paling kecil di Indonesia adalah RT atau Rukun Tetangga? Sudah jelas, berjalannya pemerintahan dan kemajuan bangsa kita harus didasari kerukunan, bukan?