Pagi yang suci dengan
mentari terlahir kembali. hadir bersama mesin-mesin industri. Kicauan burung
yang mulai mengacau diantara daun-daun yang hijau. Adzan-adzan mulai
bersahutan, suhu-suhu mulai menurunkan dirinya dan berseberangan dengan cahaya.
Budi terbangun dari kasur tuanya lalu mencuci mukanya dan mencucurkan air ke
tubuhnya untuk wudhu. Kakinya mulai di tapakkan bersama desisan tanah menuju panggilan
Tuhannya di masjid terdekat.
Budi adalah bocah belum
belia dengan usia 14 tahun yang hidup digubuk tuanya. Karena ditinggal ayahnya
pergi ke surga ketika berada di dalam kandungan dan dia juga ditinggal ibunya
waktu kelas 3 SD pergi ke tempat indah disana. Namun dia tidak pantang menyerah
demi menggapai cita-citanya menjadi penulis yang hebat. Setelah sholat subuh
dia kembali ke rumah mengambil peralatan sekolahnya dengan langkah tegak
menantang cakrawala. Dia menuju agen koran dan memulai untuk menjajahkan koran
di jalanan yang kelam di pagi hari. Dia hadir bersama asap hitam yang
membelenggu tenggorokannya, batuk-batuk sudah menjadi sahabat kesehariannya.
Saat dia menjajahkan korannya
lewat di depan mobil bermerek hewan rimba. Ternyata dibalik mobil itu ada Bobby
teman sekelasnya yang merupakan anak orang yang berdompet tebal. Yang diantar
mobil ke sekolah. Budi tetap berjualan koran hingga lupa arloji dan jarumnya
menunjukkan angka 7. Dengan koran yang ditaruh dalam tumpukan buku pelajaran miliknya yang dibawa ke
sekolah, ternyata dia terlambat masuk sekolah dan pelajaran pun sudah dimulai. Ketika
Budi masuk kelas terdengar celotehan dari Bobby “Hukum saja bu, dia hanya
bermain lari-lari di jalanan tadi pagi.” Akhirnya Budi di hukum bu guru untuk
membersihkan kamar mandi dan tanah lapang dengan spectrum cahaya matahari yang
menikam ubun-ubunnya. Dia sejenak melamun dan hatinya berbicara “Biarkan orang
lain memandang diriku sebelah mata. Namun, dia tidak bisa melihat dirinya
sendiri dari tangan yang menutupi matanya itu.”
Setelah pulang sekolah
dia langsung pergi kerja di sebuah tempat pemecahan batu di pinggiran sungai.
Dia disini diberi tugas sebagai pengangkat batu untuk memindahkan dari tempat
pemecahan menuju mobil bak besar. Tangan kecilnya mengeluarkaan urat-urat biru
semi-semi hijau. Terkadang kakinya tertimpa batu-batu besar, lebih besar dari ukuran
jari-jarinya hingga merasa sudah terbiasa. Seringkali matanya mengeluarkan
bukti lega antar rasa sakit sebagai penenang jiwa. Dia selalu ingat perkataan
ibunya “Nak, Tuhan tidak akan terlelap hanya dia yang tahu apa cerita
berikutnya kamu hanyalah lakon. Tuhan adalah sutradaranya, Jika kamu mulai
keluar dari jalan cerita. Banyak cara-Nya untuk menngembalikan jalan ceritanya
yang selalu berakhir indah”
Ketika
arloji menunjuk angka 3 dan khalayak menyebutnya sore. Terdengaar orang yang
berteriak di speaker masjid menyeru untuk mengesakan Tuhannya. Itu pertanda Budi
harus pulang dengan membawa rupiah bergambar Sultan Mahmud Baharudin II sebagai
upahnya dalam 2 hari. Dia pulang, mandi, dan mengerjakan sholat ashar lalu
pergi menjajah jalanan dengan senjata koran. Arloji berputar begitu cepat, hingga
senja menggelapkan malam. Terdengar suara adzan maghrib ketika mentari ditarik
oleh Yang Maha Esa untuk membahagiakan bagian bumi lainnnya. Budi pergi ke masjid
yang terletak diantara ruko-ruko yang mencakar langit-langit malam jahanam itu.
Seraya berdoa kepada Yang Maha Esa untuk menjadi pemain terbaik di dalam skenario Tuhannya. Dia
keluar dari masjid dan dia duduk-duduk di serambi masjid. Setelah itu dia pergi
menjajahkan korannya di lampu merah jalanan itu. Banyak orang tidak mau membeli
korannya, bahkan banyak yang mencemoohnya gara-gara koran tersebut adalah koran
pagi dan dapat dipastikan bahwa koran sudah tidak mulus lagi banyak
lekukan-lekukan. Beritanya pun sudah di ketahui lewat aplikasi koran online
jadi, beritanya sudah tidak segar lagi
Pangilan sholat yang
terakhir sudah terbunyi menyentuh rumah siput di telinga. Dan senja mulai terlelap
mega merah menggantikan keindahannya. Budi tak lupa menapakkan kakinya menuju
masjid dan berdiri menghadap barat.setelah itu, dia duduk-duduk santai sambil
melamun masa depan yang dipastikan dia cerah dan dia menghitung laba hari ini
dan modal yang digunakan untuk esok .Tiba-tiba dia melihat pamfllet di koran
lusuh miliknya, ada lomba menulis
kritikan untuk pemerintah. Namun, biaya pendaftaraan begitu mahal sulit
dijangkau oleh budi. Dan budi berpikir tidak mungkin bisa mengikuti lomba
tersebut. Dia tetap bermimpi suatu saat nanti dia akan menjadi pemenang di
suatu lomba. Budi menulis dengan optimis tanpa goresan pesimis dia berkata dalam
nuraninya “ wahai kertas lusuh, dirimu dan goresan pena ditubuhmu suatu saat
nanti akan jadi saksi bisu kemenanganku suatu di hari nanti”. Sambil dia
menulis di kertas miliknya. Dia
mengambil tema perwujudan UUd 1945 Pasal 34 ayat 1 yang isinya fakir miskin dan
anak terlantar di pelihara oleh Negara. Tulisan itu pun selesai dan di selipkan
diantara koran-koran lusuh. Bulan mulai menjadi cermin mentari dengan kuat, Budi mulai
menapakkan kakinya untuk pulang bersama hentakkan kaki dari hati yang sedih
karena laba yang cenderung terbui.
Ketika dia melewati
ruko-ruko, Tiba-tiba badannya mulai gemeteran,pusing dan jantungnya mulai
berdebar-debra begitu kencang. Ternyata Baru ingat bahwa dirinya belum makan
dari kemarin malam. Perutnya kosong dengan makanan yang nihil, Dia tidak
sanggup untuk menapakkan jalan wajahnya begitu pucat. Akhirnya budi pingsan di
lantai ruko-ruko dengan badan yang terbujur berposisi
terlentang. Akhirnya, budi terlelap hinnga matahari hadir lagi hingga tingginya
setombak.
Di pagi hari
datanglah Pak Samsi yang akan membuka usahanya di ruko tersebut. Budi
dibangunkan Pak Samsi, Budi kaget dan ketakutan dia terbangun dan langsung lari
meninggalkan tempat tersebut. Karena tergesa-gesa tumpukan koran terjatuh
dilantai bersama karyanya yang ada dikertas lusuh itu. Pena terpental dilantai
dengan ujung yang menghadap kearah barat daya tanpa daya. Kertas itu pun
diambil Pak Samsi dan dibaca Pak Samsi, dia sampai menitihkan air mata tertikam
oleh kata-kata si Budi. Ternyata Pak Samsi adalah pemilik redaksi koran yang mengadakan
lomba menulis kritikan untuk pemerintah. Pak Samsi membawa karya Budi menuju ke
dalam. Dan setelah di pertimbangkan, ternyata karya budi adalah pemenangnya.
Pak Samsi ingin mencari Budi, tapi dalam karya tersebut tidak ada alamat
penulis yang jelas. Akhirnya karya Budi diterbitkan di surat kabar dan surat
kabar itu menyebar ke seluruh anthero nusantara.
Hari berganti hari, suatu
hari pak samsi sengaja pulang lebih larut bersama malam. Pak Samsi melihat budi
menghitung laba di bawah tugu besar dekat redaksi pak Samsi langsung mendekati
si Budi. Budi gemetaran karena tau bahwa dialah orang yanga ada dalam kejadian
tersebut. Pak Samsi membawakannya secarik koran dan langsung memberinya koran
itu yang ada karya Budi yang jadi pemenang itu. Budi menitihkan air mata dan
bingung. Budi bertanya pada pak Samsi “ lho, Bapak dapat darimana tulisan
saya”. Pak Samsi menjawab “nak, tulisan ini aku temukan di depan redaksiku di
kejadian hari itu”. Pak Samsi bertanya kepada budi tentang kisah hidupnya dan
dia menceritakan kepada pak Samsi. Budi menangis dan memeluk pak Samsi. Dan pak
samsi memberinya hadiah.
Esok hari ada koran
dengan headline koran “si budi kecil dengan keadaan guyub menggigil”. Koran ini
menyebar ke seluruh negeri dan di baca
orang-orang penting di Indonesia. Hingga dia di beri beasiswa oleh suruhan dari
menteri social hingga dia lulus.
Inspirasi: Sore Tugu Pancoran -Iwan Fals
Inspirasi: Sore Tugu Pancoran -Iwan Fals